Langsung ke konten utama

Viva PSSI, FIFA Lihatlah dengan Jernih PSSI


Ada SEBANYAK 34 kandidat Ketua Umum PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) telah mendaftarkan diri untuk maju dalam bursa pencalonan ketua menggantikan posisi Nurdin Halid.

Banyaknya kandidat yang mencalonkan diri, tentu menguntungkan, karena kita semakin banyak pilihan figur yang pantas duduk di kursi utama PSSI. Di lain pihak, juga menggambarkan betapa sebenarnya kita banyak calon yang berani maju dan mau mengurus PSSI yang prestasinya makin mengkhawatirkan.

Ke-34 calon tersebut, mulai tanggal 25 April ini akan memulai tahap penyaringan awal. Dan dari puluhan calon tersebut, nama George Toisutta serta Arifin Panigoro, yang sebelumnya sudah ditolak FIFA, tetap maju mencalonkan diri.

Bagi banyak kalangan, keputusan FIFA cukup mengherankan. FIFA bersikeras menolak empat calon ketua umum PSSI yang dianulir Komite Banding pada 28 Februari 2011. FIFA juga menegaskan ketidaklayakan empat calon Komite Eksekutif PSSI (Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, George Toisutta, Arifin Panigoro) yang ditolak Komite Banding PSSI pada 28 Februari 2011 lalu.

Penolakan dikeluarkan FIFA setelah Presiden FIFA Joseph S. Blatter dan Direktur Asosiasi serta Keanggotaan FIFA Thierry Regenass bertemu dengan Ketua Komite Normalisasi PSSI Agum Gumelar di Markas FIFA di Swiss, Selasa, 19 April 2011.

Keputusan melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro, disamping dua mantan pengurus PSSI Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie, tentu saja mendapat sorotan tajam para pemilik suara PSSI. Pasalnya, FIFA seolah menganggap empat nama itu sama posisinya di mata mereka.

FIFA seharusnya bisa menerima pencalonan Toisutta dan Panigoro. Alasannya, Komisi Banding era Nurdin Halid, yang pertama kali menganulir keempat calon, diangkat oleh pimpinan PSSI yang tak sah menurut Statuta FIFA.

Apalagi di mata sebagian besar anggota PSSI, George Toisutta dan Arifin Panigoro sangat jauh berbeda dibanding Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie. Sekum Pengprov PSSI Jawa Timur, Achmad Riyadh, menyebutkan George Toisutta dan Arifin Panigoro harus dibedakan FIFA dengan Nurdin Halid ataupun Nirwan D Bakrie, yang merupakan mantan pengurus PSSI lama yang dianggap tak becus mengurus PSSI.

Toisutta-Panigoro adalah sosok yang punya andil atas runtuhnya era Nurdin Halid. Itu yang seharusnya FIFA ketahui sebelum menjatuhkan putusan.

Dibalik sikap ngotot FIFA yang melarang dua nama tersebut, LIRA Indonesia Sports Wacth (ISW) menduga ada oknum FIFA yang telah dibujuk rayu kubu Nurdin Halid cs, untuk menghembuskan berita tidak baik soal dua nama tersebut.

Presiden LIRA, Jusuf Rizal meyakini, dibalik sikap FIFA tersebut ada peranan seorang
Thierry Regenass, Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA, yang dikenal dekat dengan trio N, yakni Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, dan Nugraha Besoes.

Menurut Jusuf Rizal yang juga siap maju menjadi bakal calon Ketua Umum PSSI, Thierry Regenass telah bermain mata dengan kelompok pro status quo untuk menjegal pencalonan Goerge Toisuta-Arifin Panegoro maju sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015.

Jusuf Rizal menengarai, ada upaya kelompok yang tidak ingin ada perubahan di PSSI sehingga melakukan lobby ke FIFA dengan memberikan gambaran yang tidak benar. Bahkan mungkin mengarah pada suap.

Pelarangan yang dilakukan FIFA sebetulnya tidak mendasar. Alasannya, proses reformasi PSSI yang berjalan saat ini tidak lepas dari peran Goerge Toisuta dan Arifin Panigoro. Sehingga tudingan dua tokoh tersebut bakal merusak sepakbola sebetulnya hanya upaya menjegal dua nama tersebut.

Jika memang benar masih ada upaya-upaya tidak benar terkait proses pemilihan Ketua Umum PSSI, kita semua tidak bisa membayangkan bagaimana perjalanan prestasi sepakbola Indonesia ke depan. ****

(foto:aksibintang.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...