
ANCAMAN penyakit mematikan, AIDS, masih menjadi momok. Memerangi penyakit tersebut, tidak terbatas pada penyakit itu sendiri, namun juga memerangi perilaku menyimpang dari masyarakat kita dewasa ini.
Kebiasan melakukan hubungan seks bebas dengan banyak orang, pemakaian obat-obatan terlarang melalui jarum suntik secara bersama-sama, mendominasi proses penularan penyakit tersebut.
Data yang dimiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau cukup mengejutkan.
Sebanyak 174 Wanita Pekerja Seks (WPS) di Provinsi Riau dinyatakan positif mengidap HIV. Namun yang lebih mengerikan adalah ke-174 WPS tersebut masih tetap menjajakan dirinya seperti biasa.
Menurut KPA Riau, para pekerja seks komersial tersebut tersebar di seluruh seluruh kawasan Riau. Baik di areal lokalisasi terselubung maupun non lokalisasi terselubung. Fakta tersebut tentu akan semakin mengibaratkan penyakit ini sebagai fenomena gunung es.
Para pengidap yang terdata, bisa jadi masih merupakan bagian kecil dari jumlah penderita yang belum terdeteksi. Dengan tiadanya kesadaran dari para pengidap untuk tidak menjual diri, akan memungkinkan persebaran virus mematikan ini semakin tidak terkendali.
Berdasarkan estimasi yang dirilis Departemen Kesehatan (Depkes) pada 2009 lalu, di Riau tercatat 115.785 pria hidung belang menjadi pelanggan WPS. Mereka semua rawan tertular HIV, kata Ketua KPA Riau, Dra. Woro Surti Andayani.
Menurut "National Trainer Care, Support and Treatment IMAI-HIV/AIDS", dr Ronald Jonathan MSc, jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh kabupaten/kota di Indonesia pada 2010 diperkirakan mencapai 93 ribu sampai 130 ribu orang.
Angka itu diperoleh berdasarkan perkiraan pengaduan penderita terinfeksi HIV/AIDS ke sejumlah rumah sakit, yang berjumlah tidak lebih dari sepersepuluh korban terinfeksi keseluruhan. Diperkirakan, jumlah penderita HIV/AIDS yang tampak hanyalah 5-10 persen dari jumlah sebenarnya.
Sementara jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia sejak 1980-an hingga September 2009 yang terdata oleh Departemen Kesehatan mencapai 18.442 penderita, dengan perbandingan jumlah penderita laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu.
Data tersebut mengindikasikan, ada pergeseran pola penyebaran. Saat ini, penyeberan terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi penggunaan jarum suntik. Menurut estimasi, hampir 50 persen dari penyebaran virus HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seksual,dan melalui jarum suntik (pada pengguna narkoba) mencapai 40,7 persen.
Rentan usia tertinggi penderita HIV/AIDS hingga saat ini masih tetap berada pada usia produktif yaitu 20-39 tahun. Karenanya, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan, agar jumlah mereka dapat diminimalkan.
Perang terhadap penyakit ini perlu dilakukan secara serentak dan sungguh-sungguh. Perlu keterbukaan dan kesungguhan dari kita semua untuk melakukannya. Tahun ini, adalah tahun ke- 30 hari AIDS sedunia. Semakin tua usia penyakit ini, ternyata jumlah penderitanya juga semakin membesar.
AIDS telah mengklaim lebih dari 25 juta orang dan lebih dari 60 juta orang telah terinfeksi HIV. Dalam setiap hari, lebih dari 7.000 orang baru terinfeksi dengan virus, termasuk 1.000 anak-anak. Dan boleh dikatakan bahwa tidak ada negara yang dapat lolos dari kehancuran epidemik yang benar-benar menjadi global akibat penyakit tersebut.
Memerangi AIDS, menurut Prof Majidi dari di Harvard University, Amerika, efektif dilakukan melalui agama. Keprihatinan kita semua, menurut Majidi, adalah bagaimana penyakit itu demikian pesat menular, sementara pencegahannya sangatlah lambat. Karena itu, agama mestilah lebih dilibatkan lagi dalam proses pemberantasan AIDS.
Bila orang melaksanakan ketentuan agama dengan baik dan benar, penyakit AIDS akan mudah ditaklukkan. Semua agama memiliki komitmen yang sama dalam mencegah penyakit AIDS. Jika pengamalan ajaran agama benar dan konsisten, maka tidak akan terjadi hubungan seks bebas, yang memicu munculnya AIDS. ****
(foto:internet/wordpress.com)
Komentar