Langsung ke konten utama

Bahasa Asing tak Bisa, Ngapain Studi Banding ke Luar


KRITIK atas kinerja DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) makin bertumpuk. Setelah persoalan rencana pembangunan gedung baru DPR, soal kunjungan DPR ke luar negeri selalu menjadi sorotan tajam.

Masyarakat mempertanyakan efektivitas dan manfaat dari kunjungan-kunjungan yang selama ini dilakukan. Selain memerlukan beaya yang tidak sedikit, banyak kunjungan yang ternyata kurang bermanfaat dan bahkan terkesan hanya untuk wisata menghabiskan dana saja.

Kunjungan Komisi VIII ke Australia, menuai kritikan paling keras. Kritikan yang dilontarkan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) terhadap kunjungan kerja DPR ke Australia, membuka mata kita semua atas kesia-siaan kunjungan itu.

Direktur Lima Ray Rangkuti menyebutkan, PPIA telah membuka mata masyarakat Indonesia bahwa DPR tak juga dapat membenahi persoalan-persoalan mudah dan sepele tapi substantif di tengah-tengah wacana perbaikan dan peningkatan kualitas anggota Dewan.

Pertanyaan adakah alamat e-mail sangat sederhana, tapi prinsipiil dalam komunikasi masyarakat modern. Kenyataannya bahwa alamat e-mail Komisi VIII tak tersedia mengakibatkan narasi-narasi besar perbaikan kualitas DPR selama ini terlihat lucu.

PPIA juga mengkritisi, ke depan, wakil dewan yang berangkat ke luar negeri sebaiknya bisa berbahasa asing, minimal bahasa dari negara yang akan mereka kunjungi. Dicontohkan PPIA, dalam pertemuan antara Komisi VIII dengan Manager for Aged care and International Programs, Departement of Health and Services Stephen Kelly serta Assistant Secretary for Multicultural Affairs, Departement of Immigration and Citizenship Peter Van Vliet, terlihat ada kendala soal bahasa.

Jika saja dalam hal bahasa tidak ada keselarasan pemahaman, tentunya makna dari kunjungan atau studi banding yang dilakukan juga tidak akan bisa memberi jaminan kemanfaatan. Bisakah apa yang diutarakan sang mentor (negera yang dikunjungi) bisa ditangkap dengan benar oleh sang "murid?"

Ditekankan oleh PPIA, jika kunjungan hanya untuk mendengarkan paparan seorang Stephen Kelly, tentu mendatangkan Kelly ke Indonesia membutuhkan beaya jauh lebih sedikit ketimbang 16 anggota Komisi VIII DPR diterbangkan dari tanah air ke Australia.

Sayang, menanggapi masukan dan kritikan PPIA, anggota dewan yang bertandang ke Australia justru emosional dan marah. Abdul Kadir Karding, Ketua Komisi VIII menyesalkan pelajar Indonesia di Australia menyoroti kunjungan DPR sebagai hal yang buruk.

Dia mengatakan, pelajar Indonesia telah mencitrakan parlemen Indonesia secara buruk di mata negara lain. Itu bentuk penghinaan. DPR adalah institusi kebanggaan negara Indonesia, katanya. .

Semestinya, Komisi VIII tak perlu garang dan marah terhadap kritikan PPIA. Tidak ada yang berlebihan dalam kritikan itu. Juga tidak terlihat adanya upaya menjatuhkan wibawa DPR.

Sebaliknya, tindakan DPR yang tak mendengar protes masyarakat atas pembangunan gedung baru dan rencana pelesiran ke luar negerilah yang lebih tepat disebut berlebihan dan mempermalukan DPR, serta bangsa Indonesia. Pasalnya, wakil rakyatnya sendiri sudah begitu saja mengabaikan protes mayoritas warganya.

Dalam periode saat ini, dengan hadirnya wajah-wajah baru wakil rakyat kita, seharusnya dapat memberikan semangat dan tradisi politik baru dalam kerja dan kinerja DPR. Termasuk dalam hal kegiatan klasiknya, yakni kunjungan kerja ke luar negeri.

Jika kunjungan kerja diidentikkan dengan peningkatan kinerja DPR, bisa dikatakan kunjungan kerja yang selama ini dilakukan belum berkorelasi positif terhadap perbaikan dan peningkatan kerja dan kinerja dewan, baik secara personal maupun institusional.

Boleh dikata kinerja DPR masih lemah, baik dari sisi fungsi kontrol, anggaran, maupun legislasi.Fungsi kontrol misalnya, fungsi ini yang paling disukai oleh anggota DPR, tetapi bagaikan "tong kosong, nyaring bunyinya". Masih melempem dan bahkan dalam beberapa kasus sering ada maunya. ****




(foto:matanews.com)

Komentar

Anonim mengatakan…
ya saya setuju dengan pendapat anda. saya nilai kinerja DPR begitu-gitu saja dan sejauh ini masyarakat luas belum merasakan manfaat dari studi banding itu. jadi studi banding untuk apa? jalan-jalan menghabiskan dana rakyat?

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...