Langsung ke konten utama

Koruptor Digantung Saja Biar Cepet Kering


PERANG melawan korupsi di Indonesia ternyata tidak semudah yang kita duga. Dalam banyak kasus, penyelesaian kasus korupsi belum bisa menyentuh akar persoalannya.

Ringannya hukuman yang ditimpakan kepada pelaku korupsi juga belum mampu memberikan efek jera kepada pelaku yang bersangkutan dan belum juga mampu menumbuhkan rasa takut di hati pelaku atau calon pelaku korupsi yang lain.

Bahkan adanya wacana pembebasan kepada pelaku korupsi dalam jumlah uang yang dinilai sedikit, makin membuat miris hati ini. Mestinya, kepada pelaku korupsi dikenakan hukuman berat yang menyangkut pidana badan, sanksi ekonomi dan sosial. Usulan pemiskinan kepada koruptor adalah wacana yang cukup menarik. Selain itu, penayangan wajah koruptor seperti dulu pernah dilakukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah langkah hukuman sosial untuk membuat malu.

Dengan hukuman berat, paling tidak akan mampu membuat calon koruptor untuk berpikir ulang sebelum melakukan aksinya. Karena jika dia tertangkap, bukan hanya dia saja yang terhukum, namun seluruh anggota keluarganya akan kena imbasnya juga.

Budaya korupsi di tanah air, boleh dikata sudah sedemikian masif, sistemik dan mengakar. Budaya korupsi ini, secara tidak langsung sudah diajarkan sejak tingkat sekolah dasar. Kerapkali tanpa alasan yang jelas, di saat kenaikan kelas, orangtua memberikan buah tangan kepada sang guru dengan harapan anaknya bakal lebih diperhatikan kelak.

Tradisi tersebut kelihatan baik, namun sebenarnya ibarat pisau bermata dua. Bisa memicu suburnya budaya korupsi. Perbuatan menerima barang, menerima gratifikasi, seolah hal biasa karena kerap dilakukan siapa saja, dalam acara apapun juga dan dalam skala yang tidak terbatas.

Sepakat dengan gasagan Menteri Hukum dan Ham Patrialis Akbar yang akan secara intens mengkampanyekan aksi antikorupsi. Korupsi adalah perbuatan yang menjadi musuh besar bangsa Indonesia sehingga perlu ada ajakan untuk terus memerangi perbuatan yang merugikan negara tersebut.

Pemberantasan korupsi akan bisa ditekan apabila semua pihak secara bersama-sama memusuhi perbuatan korupsi tersebut. Perbuatan korupsi di Indonesia harus dicegah karena menjadi penghambat pembangunan di negeri ini.

Perang terhadap budaya korupsi, agar menimbulkan efek simpati perlu dilakukan dengan berbagai cara, terutama sekali contoh riil para pejabat. Seluruh pejabat, pegawai negeri sipil (PNS), dan jajaran dewan wajib menerapkan budaya malu berbuat korupsi guna menata masa depan bangsa ini menjadi lebih baik.

Jika ada pejabat, PNS maupun wakil rakyat yang korupsi maka sanksi pemecatan harus dikedepankan terlebih dahulu, sebelum hukuman lain diterapkan. Apabila hukuman yang diberikan ringan, maka perbuatan korupsi akan selalu menggiurkan untuk diulang.

Saat ini, momentum perang melawan korupsi tengah menunggu kelugasan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemerintah. Kasus yang menimpa Bendahara Umum Partai Demokrat adalah momentum SBY. Karenanya tidaklah berlebihan jika Indonesia Corruption Watch (ICW) meminta KPK mengusut laporan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK)
Mahfud MD terkait Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin memberikan uang sebesar 120.000 dolar AS kepada Sekjen MK Djahendri.

Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan KPK, yakni menelusuri aliran dana Nazarrudin dan asal-muasal uang tersebut. Apa maksud Nazaruddin memberikan uang itu apakah berkait sesuatu jabatan.

Kasus itu harus diusut sebab berkaca kasus Mafia hukum dan pajak Gayus Tambunan dimana si pemberi dan penerima gratifikasi tetap diproses oleh penegak hukum. Jadi jangan sampai kasus ini dianggap hanya melanggar kode etik. Justru jadikan hal ini sebagai momentum memerangi korupsi. ****


(infokorupsi.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...