Langsung ke konten utama

Kunanti Janjimu



MASA kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Wali Kota Pekanbaru, sudah dimulai. Awal kampanye dimulai 1 Mei yang kebetulan jatuh pada hari Minggu dan bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Sedunia (May Day). Masa kampanye ini akan berlangsung selama 14 hari, hingga 14 Mei 2011.

Pemilukada Wali Kota Pekanbaru, masa jabatan 2011-2016 ini, hanya diikuti dua pasangan calon. Pasangan calon wali kota dengan nomor urut satu adalah Firdaus MT-Ayat Cahyadi (PAS) dan nomor urut dua adalah Septina Primawati Rusli-Erizal Muluk.

Kedua pasangan calon, kemarin mengawali hari pertama kampanye dengan melakukan pemaparan visi dan misi di Kantor DPRD Pekanbaru. Suasana kampanye perdana cukup semarak dengan kehadiran ratusan pendukung pasangan Firdaus-Ayat dan pasangan Septina-Erizal. Setiap kali, poin-poin penting berisi janji-janji pembangunan didengungkan kedua pasangan, ditingkahi teriakan yel-yel dari para pendukung mereka.

Sudah menjadi rahasia umum, menjelang Pemilukada, para calon pemimpin akan melakukan promosi ibarat para marketer menjual image sebuah produk. Janji-janji manis ditebarkan untuk bisa dipetik pada saatnya nanti.

Janji-janji tersebut menjadi lebih menggiurkan ketika dibarengi dengan paparan program yang hendak dijalankan. Semuanya terasa indah untuk dibayangkan. Dalam realita, tentu perwujudan janji tersebut yang lebih penting untuk diperhatikan.
Saat masih kampanye, sudah tentu janji-janji tersebut belumlah mempunyai arti.

Nantinya, ketika sang waktu mencatat kebenaran janji-janji itu, barulah warga bisa memaknainya. Dan saat itulah, eksistensi serta kualitas seorang pemimpin dan wakilnya akan terlihat bentuknya.

Janji calon pemimpin, sampai saat mereka memenangkan pertarungan pun, masih berupa retorika politik saja. Belum mewujud. Dan ketika masih sebagai tataran bahasa dalam retorika, segalanya tentu masih terasa indah serta "membius" pendengaran.

Para calon pemimpin tentu sangat menyadari hal itu. Mereka harus senantiasa ingat untuk merealisasikan janji mereka kelak. Karena janji-janji politik yang muaranya pada kesejahteraan warga itulah yang membuat mereka memenangkan pertarungan Pemilukada.

Janji-janji para calon pemimpin, seyogyanya tidak terlalu muluk-muluk dan banyak ragamnya. Pemimpin yang baik adalah yang demokratis, inklusif dan punya komitmen pada solidaritas warganya serta mampu memproyeksikan sebuah misi-visi bagi seluruh warganya, tanpa pandang bulu.

Memimpin sebuah daerah yang penuh dinamika, dibutuhkan kearifan untuk segera melihat manakah tantangan, dan ke manakah kita harus berjalan. Gebyar daerah-daerah pesaing harus dilihat sebagai motivator untuk terus-menerus melakukan inovasi dalam membangun kota dan mencerdaskan warganya.

Esensi janji-janji para calon pemimpin, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kontrak sebagaimana diatur dalam pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Di dalam kontrak, masing-masing pihak mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi, yang bila salah satu pihak mencederai kewajiban, maka pihak lain dapat menuntut ke pengadilan.

Dalam kampanye misalnya, masyarakat telah memenuhi kewajibannya dengan memberikan dukungan kepada politisi yang "beriklan", sementara politisi yang beriklan kelak jika terpilih harus memenuhi kewajibannya dengan merealisasikan hal-hal yang dahulu ia janjikan.

Terlepas dari janji-janji yang sudah diucapkan, siapa pun yang terpilih nantinya, sebagai pemimpin di kawasan heterogen -- banyak suku -- pasangan pemimpin Pekanbaru kelak harus bisa memandang segala sesuatu dari berbagai sisi. Dengan itu, semoga saja pasangan pemimpin Pekanbaru nantinya mampu memberikan sinyal bahwa suasana kota ini cukup kondusif. Warganya bisa bersatu, bisa berdamai, dan siap diajak membangun lingkungan agar lebih baik serta nyaman. ****

(foto:KPU)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...