Langsung ke konten utama

Pemilukada: Consumer Oriented


SELESAI sudah tahapan pencoblosan Pemilihan Walikota Pekanbaru periode 2011-2016. Para pemilih di kota Pekanbaru telah menentukan pilihannya, Rabu (18/5) kemarin. Pasangan H Firdaus ST MT - Ayat cahyadi Ssi dan Dra Hj Septina Primawati MM - H Erizal MM, tinggal menunggu hasil penghitungan suara untuk menentukan siapa yang lebih unggul diantara mereka.

Siapa yang unggul diantaranya, tentu harus diapresiasi seluruh masyarakat Pekanbaru dan mendapatkan kebesaran hati dari pasangan yang kalah untuk mengakui keunggulan sang pemenang.

Jiwa besar sangat diperlukan dalam proses pesta demokrasi ini. Kalah-menang bukanlah tujuan utama, karena yang paling penting bagi setiap pasangan yang maju adalah bagaimana memajukan dan mensejahterakan warganya.

Kemenangan Pemilukada perlu diimplementasikan sebagai kemenangan seluruh warga Pekanbaru, bukan hanya kemenangan perorangan atau kelompok saja. Dan kemenangan itu, tentu saja adalah bentuk suatu amanah kepercayaan dari warga.

Dalam proses pemilihan kemarin, kita patut bersyukur, semuanya berlancar dan aman. Meski ada juga pelappran kecurangan di kedua belah pihak.

Kelancaran proses demokrasi tersebut muncul karena masyarakat secara psikologis sudah matang dan dewasa. Mereka beranggapan menang dan kalah itu sesuatu kewajaran. Kesadaran elite politik yang sejak awal bersedia mencalonkan diri juga patut dipuji, karena mereka memiliki kesadaran bahwa kekalahan dan kemenangan harus diterima dengan lapang dada. Fairplay lebih dikedepankan.

Pemilihan secara langsung, sangat berbeda dengan pemilihan sebelumnya. Dalam Pemilukada di mana pun juga, biasanya faktor figur dan karisma calon sangat berpengaruh untuk memenangi pemilihan.

Dalam banyak kasus, meski diusung parpol besar belum tentu bisa memenangi pemilihan. Walau tidak seratus persen karena figur, tapi itu yang utama dalam Pemilukada. Di samping itu, karena yang muncul di surat suara adalah foto calon bukan gambar partai.

Menurut H. Syamsul Bahrum, Ph.D, Pemilukada sebagai bagian dari proses "politico-economicizing" telah terjadi pergeseran pola manajemen politik dari dominasi institutional (Pemerintah dan Partai Politik) ke "consumer oriented" yakni kekuatan massa ("people power") melalui partisipasi sosial.

Masyarakat sebagai konsumen politik akan membeli produk politik atau memilih calon pemimpin mereka, yang dianggap menguntungkan. Memilih kandidat sama dengan membeli barang. Oleh karenanya, promosi, sosialisasi dan "uji petik" kandidat yang akan dipilih sama dengan barang yang akan dipakai.

Dalam fenomena seperti ini, tentulah kualitas kandidat menjadi faktor utama, disamping pentingnya ketokohan dan panutan. Ketokohan yang dapat membaca maunya pemilih ("mind reading"), beremphati dengan menunjukkan simpati kepada pemilih potensial dan pendukung emosional.

Dijabarkan Syamsul Bahrum pakar ekonomi politik Kepri ini, ketokohan juga diwujudkan pada pola pikir kewajaran dengan memperlakukan massa pendukung dan lawannya secara proporsional dan kemampuan membangun dialog interaktif dengan cara lebih banyak mendengar apa maunya konstituen.

Kini kita semua tingal menunggu hasil penghitungan suara Pemilukada Pekanbaru. Kita semua berharap, yang terpilih nantinya adalah yang benar-benar sesuai harapan warga dan selaras kebutuhan pembangunan kota tercinta ini.

Semoga pasangan Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru mendatang adalah pasangan yang benar-benar mengedepankan visi dan misi yang marketable demi kemajuan Pekanbaru. Dan kita sebagai warga hendaklah juga mampu mengawal dan "mendampingi" walikota terpilih nantinya agar arah pembangunan sesuai dengan koridor hukum positif dan tujuan moral sosial, budaya, ekonomi, dan politik Pekanbaru. ****

(foto:ineternet/colatest)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...