Langsung ke konten utama

ANTARA AKU DAN ATMO (1)

Cer-PELI (cerita pendek sekali)

Di zaman sekarang, kalau kita tidak kritis terhadap hidup sendiri dan terlalu idealis sepertinya bakal dilanda krisis. Persoalan menyiasati hidup dan menjaga idealisme menjadi perbincangan hangat, siang itu, di warung kopi Uwak.
Uwak yang sudah tua dan banyak melanglang pelosok daerah, banyak melempar senyum simpul ketika mendengarkan obrolan kami. Aku dan Atmo, kawan kental yang aku anggap adikku sendiri.
Atmo, menurut aku, memang terlalu idealis dan sedikit berbelit-belit dalam memandang hidup ini. Sepanjang aku kenal dia, hidupnya sebenarnya cukup sederhana. Tidak neko-neko. Tapi heranku, kenapa dalam beberapa hal dia tidak bisa praktis.
Atau karena tidak praktis dan lugas itukah yang membuat hidup Atmo menjadi sederhana ya? Ah, embuh lah. Aku tidak mau menduga-duga tentang dia. Takutnya multi tafsir. Karena ibarat dalamnya laut bisa di duga, dalamnya hati sukar diterka.
Atmo pasti punya falsafah hidup mulia yang aku tak tahu. Dan jika pun tahu, pasti belum tentu aku bisa menjiwainya. Jiwa setiap manusia, kata banyak orang, punya misterinya sendiri-sendiri.
Obrolan makin menukik ketika Atmo menceritakan, hampir setiap hari selalu menertawakan situasinya. "Itu gejala apa ya Mas.....," katanya sambil menghembuskan asap rokoknya. Tanpa menunggu jawabanku dia melanjutkan kata-kataya. "Sederhana saja," uarainya, "bebanku sekarang cukup berat, tidak punya pekerjaan tetap sedang anak isteri mesti dihidupi."
Berbicara pekerjaan, sebenarnya bukan tak punya. Gagasannya cukup brilian, dan beberapa diantaranya sudah memberikan hasil. Dia punya tempat pengembangan, tapi memang tidak cukup modal. Punya teman untuk melabuhkan pemikiran, tapi tak cukup memberi solusi.
Seiring berjalannya waku, Atmo mengeluhkan hidupnya terasa tiada arah jelas. "Oh nasib-nasib. Aku tidak ingin meratap... tapi semua ini cukup berat aku hadapi. Semoga jalan lurus itu selalu terbuka untuk kehidupanku," katanyanya.
Aku tidak mengomentari keluhannya, selain mengamininya saja. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...