Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Di zaman sekarang, kalau kita tidak kritis terhadap hidup sendiri dan terlalu idealis sepertinya bakal dilanda krisis. Persoalan menyiasati hidup dan menjaga idealisme menjadi perbincangan hangat, siang itu, di warung kopi Uwak.
Uwak yang sudah tua dan banyak melanglang pelosok daerah, banyak melempar senyum simpul ketika mendengarkan obrolan kami. Aku dan Atmo, kawan kental yang aku anggap adikku sendiri.
Atmo, menurut aku, memang terlalu idealis dan sedikit berbelit-belit dalam memandang hidup ini. Sepanjang aku kenal dia, hidupnya sebenarnya cukup sederhana. Tidak neko-neko. Tapi heranku, kenapa dalam beberapa hal dia tidak bisa praktis.
Atau karena tidak praktis dan lugas itukah yang membuat hidup Atmo menjadi sederhana ya? Ah, embuh lah. Aku tidak mau menduga-duga tentang dia. Takutnya multi tafsir. Karena ibarat dalamnya laut bisa di duga, dalamnya hati sukar diterka.
Atmo pasti punya falsafah hidup mulia yang aku tak tahu. Dan jika pun tahu, pasti belum tentu aku bisa menjiwainya. Jiwa setiap manusia, kata banyak orang, punya misterinya sendiri-sendiri.
Obrolan makin menukik ketika Atmo menceritakan, hampir setiap hari selalu menertawakan situasinya. "Itu gejala apa ya Mas.....," katanya sambil menghembuskan asap rokoknya. Tanpa menunggu jawabanku dia melanjutkan kata-kataya. "Sederhana saja," uarainya, "bebanku sekarang cukup berat, tidak punya pekerjaan tetap sedang anak isteri mesti dihidupi."
Berbicara pekerjaan, sebenarnya bukan tak punya. Gagasannya cukup brilian, dan beberapa diantaranya sudah memberikan hasil. Dia punya tempat pengembangan, tapi memang tidak cukup modal. Punya teman untuk melabuhkan pemikiran, tapi tak cukup memberi solusi.
Seiring berjalannya waku, Atmo mengeluhkan hidupnya terasa tiada arah jelas. "Oh nasib-nasib. Aku tidak ingin meratap... tapi semua ini cukup berat aku hadapi. Semoga jalan lurus itu selalu terbuka untuk kehidupanku," katanyanya.
Aku tidak mengomentari keluhannya, selain mengamininya saja. ****
Di zaman sekarang, kalau kita tidak kritis terhadap hidup sendiri dan terlalu idealis sepertinya bakal dilanda krisis. Persoalan menyiasati hidup dan menjaga idealisme menjadi perbincangan hangat, siang itu, di warung kopi Uwak.
Uwak yang sudah tua dan banyak melanglang pelosok daerah, banyak melempar senyum simpul ketika mendengarkan obrolan kami. Aku dan Atmo, kawan kental yang aku anggap adikku sendiri.
Atmo, menurut aku, memang terlalu idealis dan sedikit berbelit-belit dalam memandang hidup ini. Sepanjang aku kenal dia, hidupnya sebenarnya cukup sederhana. Tidak neko-neko. Tapi heranku, kenapa dalam beberapa hal dia tidak bisa praktis.
Atau karena tidak praktis dan lugas itukah yang membuat hidup Atmo menjadi sederhana ya? Ah, embuh lah. Aku tidak mau menduga-duga tentang dia. Takutnya multi tafsir. Karena ibarat dalamnya laut bisa di duga, dalamnya hati sukar diterka.
Atmo pasti punya falsafah hidup mulia yang aku tak tahu. Dan jika pun tahu, pasti belum tentu aku bisa menjiwainya. Jiwa setiap manusia, kata banyak orang, punya misterinya sendiri-sendiri.
Obrolan makin menukik ketika Atmo menceritakan, hampir setiap hari selalu menertawakan situasinya. "Itu gejala apa ya Mas.....," katanya sambil menghembuskan asap rokoknya. Tanpa menunggu jawabanku dia melanjutkan kata-kataya. "Sederhana saja," uarainya, "bebanku sekarang cukup berat, tidak punya pekerjaan tetap sedang anak isteri mesti dihidupi."
Berbicara pekerjaan, sebenarnya bukan tak punya. Gagasannya cukup brilian, dan beberapa diantaranya sudah memberikan hasil. Dia punya tempat pengembangan, tapi memang tidak cukup modal. Punya teman untuk melabuhkan pemikiran, tapi tak cukup memberi solusi.
Seiring berjalannya waku, Atmo mengeluhkan hidupnya terasa tiada arah jelas. "Oh nasib-nasib. Aku tidak ingin meratap... tapi semua ini cukup berat aku hadapi. Semoga jalan lurus itu selalu terbuka untuk kehidupanku," katanyanya.
Aku tidak mengomentari keluhannya, selain mengamininya saja. ****
Komentar