
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Rasanya sudah lama sekali Ani tidak berkabar. Dalam rambahan hitungan hari, barangkali sudah lewat 30 hari atau satu bulan, dia tidak berkabar secara bersungguh-sungguh padaku.
Aku katakan sungguh-sungguh, maksudnya, bercerita tentang kesehariannya, kegalauannya, kerinduannya, kegembiraannya atau rasa optmismenya dalam menyosong kehidupan ini, seperti dulu. Dulu, kata-katanya senantiasa berkobar untuk menyemangati kami dalam mimijaki jalan-jalan yang berduri.
Jalan kehidupan memang selalu penuh duri. Dan kita tidak pantas meminta padaNYA jalan tol selain berharap kita selalu dikuatkan untuk menempuh jalan yang telah ada, katanya pada suatu hari.
Kini, kabar dari Ani, selalu pendek-pendek dan datar. Bahkan kalau aku pancing dengan pertanyaan lanjutan, seringkali SMS-ku tidak berbalas. Atau berbalas tapi sudah keesokan harinya.
Aku, Parto, lelaki beruntung yang diberi kesempatan menghirup udara di dunia ini. AKu, Parto, lelaki beruntung yang diberi kelembutan untuk menjalani kehidupan yang keras ini.
Namun, gara-gara caraku yang terlalu lembut memandang atau memerangi kerasnya hidup ini, seringkai aku justru dicemooh orang-orang di sekitarku kayak banci. Terlalu lembek dan kurang fight. Fight? Tahu kan artinya?
Padahal, kelembutanku telah mampu mengalahkan egoku sendiri. Kelembutanku telah menuntunku menjadi sabar dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Bukan berarti aku menyombong, jika aku katakan, sampai saat ini belum pernah ada satu kesulitan hidup seberat apa pun, yang belum pernah aku lalui dengan selamat.
Itulah manfaat kelembutan yang aku rasakan hingga saat ini.
Mengenal Ani, aku serasa ditawari pilihan sikap yang lain dalam memandang kehidupan. Praktis dalam hidup. Keras dan lugas, serta nikmati hidup. Ya hidup memang harus dinikmati, tapi masa depan juga perlu dicermati.
Lalu kami sama-sama merumuskan kiat dan strategi hidup. Memang agak sulit menjalankannya, tapi paling tidak sudah ada bentangan pagar yang bisa jadi pegangan di kala menyusuri jalan berliku yang naik-turun di depan sana.
Orang timur punya falsafah penggabungan yin dan yang untuk mencapai keseimbangan, kesempurnaan, dan cita-cita hidup. Aku, Parto dan Ani, punya falsafah lembut dan keras dalam menyongsong cita-cita hidup ini.
Kelembutan, seperti tetesan air menggerus kerasnya batu karang. Dan keras, teguh, seperti rerumputan yang lembut tapi tak tercerabut manakala badai angin telah merobohkan pohon-pohon besar lainnya.
Tapi, Ani,......sedang apa dirimu sekarang?
foto: bakulan.dagdigdug.com
Komentar