
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Sampai jam sepuluh pagi, Pak Puh masih duduk di teras rumah. Melamun.
Dahinya kadang berkerut, matanya menerawang jauuhh, tapi kosong. Tidak biasanya dia seperti itu.
Secangkir kopi di sisinya masih utuh. Sendoknya tergeletak di meja. Ujung-ujungnya ada sisa bubuk hitam menempel. Sepertinya Pak Puh hanya sempat mengudak gulanya saja.
Pak Puh hari ini sengaja tidak masuk kerja. Iya, dia memang niat membolos. Bukan karena mau melawan atasan atau lagi sebel sama perusahaannya.
Pak Puh hanya ingin merasakan bagaimana sih rasanya tidak bekerja, sementara orang2 rumah pada pergi dengan kesibukan masing-masing.
Berbeda kalo libur hari Minggu. Rumah justru riuh. Tidak ada satu pun sudut rumah yg tersisa, meski hanya sekadar untuk meluruskan kaki.
Terdengar helaan nafas. Lirih dari mulut Pak Puh. Jarinya mengetuk-ketuk lengan kursi. Seirama dengan detak jantungnya.
"Sebentar lagi aku pensiun. Kira- kira seperti inilah pagi-pagi nanti yang harus aku lalui. Sendiri, hanya ditemani sepi. Hati serasa mati, karena tak ada lagi yg menyapa: Halo Dady selamat pagi. Bagaimana malam tadi, apakah istri bertubi-tubi ciumi pipi?
Itulah guyonan teman-teman padanya. Apalagi Asnawi, terkadang kelewatan kalo menggoda. Suka sekali menyerempet sana-sini sampai ke persoalan paling pribadi
Asnawi memang agak aneh. Sebagai lelaki dia senang dipuji seksi. Belum beristri dan terus terang pada semua orang sangat mengidolakan Pah Puh. "Bijak, penuh perhatian dan pengertian," katanya.
Tapi Pak Puh tak pernah ambil peduli. Dia masih merasa sebagai lelaki normal. Apalagi di usianya yang menjelang senja, keinginannya bersenggama masih membara.
"Kalau aku besok dah pensiun, apa yang musti kulakukan. Teman saja pasti lambat laun akan menghilang. Istri? Mungkinkah aku masih mempesona di matanya," dengus Pak Puh.
Sekaramg saja, batin Pak Puh, istri seringkali mrncemeeh hanya gara-gara gajinya lebih tinggi.
"Semua mua harus aku. Pa, apa sih sumbangan dan kontribusimu untuk keluarga kita. Ini itu aku semua. Kamu, rasanya kamu hanya menghidupi dirimu sendiri," kata isti Pak Puh dengan jumawa.
Meski tidak demikian adanya, Pak Puh seringkali tiada bisa melawan. Dia hanya terdiam dan berharap suatu saat Tuhan akan membuka kenyataan yang sebenarnya.
Di tengah lamunannya pagi itu, tiba2 Pak Puh membayangkan dirinya menjadi kambing gunung. Jenggotnya panjang menjuntai. Meski gaek dia masih terlihat gagah.
Tegak berdiri di atas bukit, memandang lembah hijau di bawahnya, daerah yang menjadi kekuasaanya.
Semua kambing mengembek padanya.
Pak Puh tak bisa menyembunyikan senyum ketika istrinya menegur sepulang kantor pukul tiga sore.
"Pa, kamu dari tadi masih di situ? Mematung saja. Senyum simpul sendiri ngliat perempuan lalu lalang di ujung jalan. Kayak bandot tua," teriak istrinya.
Komentar