
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Untuk ukuran laki-laki, wajahnya tidak terlalu tampan. Pipinya agak tembem dan terkesan kekanakan
Tapi, Bimo lelaki muda tajir. Dia seorang direktur di sebuah perusahaan milik keluarga. Ayahnya memberi jabatan itu, lebih karena rasa takut, jika dilepas di "pasar bebas" sang anak kalah bersaing.
Tidak terlalu pandai, tapi bisa meraih gelar sarjana ekonomi di universitas swasta, persoalan gampang bagi Engkus, untuk membungkus anaknya agar sedikit berkilau. Bimo Kasuari, SE.
Direktur muda, belum punya calon istri, membuat Bimo royal pada wanita penghibur. Tidak ada lokalisasi yang belum dijamahnya di provinsi ini. Semua tuntas. Bahkan dia punya "pacar" di setiap perhentian sahwat tersebut.
"Yus.....ikut aku yuuk. Sudah di ubun-ubun nih. Bisa meledak kalau tak dimanaje dengan baik," cetus Bimo pada sahabatnya sambil bergaya memijit-mijit kepala.
Dalam berkata-kata, lelaki tambun ini memamg suka menggunakan istilah ekonomi agar terkesan bisnisman tulen.
"Mami, Susi ada? Rinduku sudah berlipatganda. Menumpuk bagai bukit. Sudah lama aku menabung rindu ini," ujar Bimo pada wanita berambut pirang di Kompleks Gandem Sari.
"Aduuhh mas, kenapa sih tak berkabar dulu. Lagian mas lama banget tak mampir. Susi lagi sama Bapak angkatnya. Tuh di pojok remang sana......hihi," jawab mami sambil senyum nakal.
Bimo tak menyahut. Dia langsung melempar pandangannya ke sudut ruangan. "Kodok belang!!!!!" gerutunya.
Dilihatnya Susi tengah menggelendot manja di lengan lelaki tua berambut ikal yang sangat dia kenal. Yaaaaa, hanya bapaknyalah yang punya potongan rambut seperti itu...
(foto: arsipberita.com)
Komentar