
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Ayu kulihat masih tergolek di pembaringan. Kutatap dalam- dalam wajahnya. Tidak pernah membosankan. Bahkan berkali- kali aku selalu menemukan rasa damai yg berbeda- beda dari sana
Untuk ukuranku, barangkali dialah pemilik kecantikan sempurna. Jika saja aku bersamanya hidup di zaman mitos Yunani, mungkin aku sudah mengklaimnya sebagai salah satu dewi kecantikan.
Kujuluki dia Dewi Ayu Ting-ting. Biar di cerita mitos Yunani ada nama dewadewi bercitarasa nusantara. Dan di kelak kemudian hari nama itu juga tidak akan lagi dipakai penyanyi dangdut.
Tiba- tiba Ayu mendengus lembut. Pelupuk matanya terbuka sedikit. Ketika matanya tertumbuk pada wajah yg dicarinya, wajahku, senyumnya memoles bibirnya yg mungil dan ranum.
Itulah yg selalu membuatku mati angin dan serasa melontarkan jiwaku ke surga. Dalam situasi apapun tak pernah sekallipun dilupakannya untuk memberikan seulas senyum.
Ayu selalu mengajariku ketulusan. Senyum paginya tanpa pamrih. Bayangkan, momen bangun tidur adalah ibarat tersadar dari pingsan. Pikiran tentunya blm terkontaminasi dengan hal-hal duniawi.
Ayu memberikan seluruh cinta dan perhatiannya, lewat senyum pertamanya, ketika kembali ke dunia kesadaran.
Senyum Ayu mewakili segalanya dan jauh melebihi tataran kata-kata "Aku mencitaimu". Kata- kata cinta biasa lahir ketika otak kita sudah sadar sepenuhnya. Kata-kata biasanya lahir lewat berbagai pertimbangan dan bahkan penuh kamuflase dan maksud.
Tapi senyum tulus di saat bangun tidur adalah spontanitas. Digerakkan oleh hati. Sebuah perbuatan, bukan lagi wacana dalam kata2 rayuan.
Senyum Ayu membuat hatiku melambung sekaligus malu. Senyum itu bagai cermin agar aku bisa melihat bagian hatiku paling dalam.
Kutatap wajah Ayu. Lama. Kuusap kepalanya lalu kucium keningnya dalam-dalam.
Terima kasih Ayu, aku banyak belajar cinta darimu. (ds, pekanbaru 13/1/12))
Komentar