Langsung ke konten utama

DOSA KETURUNAN



Cer-PELI (cerita pendek sekali)

Cukup kau pangil aku Ijan
meski nama lengkapku sebernanya Wakijan bin Rusman.

Kulitku gelap, lahirku di awal tahun, itu jadi pertimbangan bapakku memilih nama.
Wakijan bin Rusman, aku anak seorang lurah.

Kata bapakku, akulah calon pewaris tahta kekuasaan yg kini ada di genggaman tangannya.

"Namun sebelum ke sana. Kamu musti aku bekali berbagai jurus dulu Ijan. Dari berbagai jurus, yang paling ampuh adalah jurus berkelit dan adu domba. Kalau sudah kisruh, kamu harus muncul seoalah-olah kamu pahlawannya," kata bapakku sambil mengusap-usap atas bibirnya yang tanpa sehelai kumis pun.

Jurus adu domba sudah membuktkan keampuhannya dalam kepemimpinan bapakku. Aku sendiri heran, gara2 jurus itu, bapakku ternyata malah semakin banyak pendukungnya.
Ada saja orang orang mau berkorban demi bapakku. Tak peduli dia akan kehilangan harta, atau bahkan harga dirinya sekalipun, kalau demi bapak semua akan dipertaruhkan.

Dengan jurus berkelit, bapakku menjelma menjadi sebuah sosok yang seolah tanpa cela dan salah. Penampilannya sempurna.

Tahun berganti tahun. Kini usiaku sudah melewati angka 18. Dan aku berubah menjadi sosok pembenci bapakku. Teman-temanku, tetanggaku, rakyat bapakku yang akhir-akhir ini menjad guru kehidupanku, telah mencelikkan mataku.

Ibuku yang lembut membelai kepalaku di saat aku dirundung duka dan masalah, makin membuat aku benci bapakku. Bukan karena ibuku sering mengeluh tentang bapakku, tapi sikap ibuku yang menerima dan selalu memaafkan kesalahan suaminya yang menambah rasa muakkku pada bapak.

Ibu yang lebih cocok menjadi ibu rumah tangga dan memang senang menjalani peran itu, disorong pada pilihan hidup yang menyulitkan. Bapakku rakus kekuasaan. Bukan hanya aku yang diharap menjadi penggantinya, tapi kalau bisa seluruh keluarga juga menjadi pemimpin di mana-mana.

Tetangaku banyak bilang, Ini bukan kerajaan, dan sebenarnya sudah banyak orang yang bosan dengan gaya bapak memimpin desa. Tak ada lagi pemerataan dan keadilan.

Di tengah kegalauanku, pernah pula terlintas di kepalaku untuk mengkudeta saja bapakku sendiri. Namun aku juga ragu, apakah tetanggaku, teman-temanku, dan warga bapakku bisa menerima aku. Jangan-jangan di hati mereka juga tumbuh kebencian padaku seperti rasa bencinya kepada bapakku.

Ahhhh...... bapakku telah menjerumuskanku pada kebencian kolektif dan pemiliki dosa keturunan. ...#

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...