Langsung ke konten utama

Hati-hati Jual Saham BUMN

DARI sembilan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang diajukan untuk go public, lima diantaranya disetujui sahamnya untuk dijual kepada publik. Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, lima BUMN tersebut, akan IPO (Initial Public Offering) dan 'right issue' dengan sejumlah catatan.

Kelima BUMN yang dimaksud adalah PT Industri Telekomunikasi Indonesia, PT Industri Sandang Nusantara, PT Industri Gelas, PT Semen Baturaja dan PT Bank Tabungan Negara. PT Industri Telekomunikasi Indonesia akan disetujui menerbitkan saham baru melalui skema akusisi mitra kerja sama secara strategis atau "strategic sales".

PT Industri Sandang Nusantara dan PT Industri Gelas juga disetujui melepas saham melalui skema "strategic sales". Strategic sales diutamakan ke BUMN yang dapat mengelola aset-aset Industri Sandang dengan baik dan Industri Gelas juga dikaitkan dengan salah satu anak perusahaan BUMN yang tepat untuk akusisinya.

PT Semen Baturaja akan melakukan penawaran saham perdana atau IPO sebesar maksimum 35 persen dengan tujuan penggunaan dana untuk pengembangan perusahaan. Penawaran disetujui setelah dilakukan hal-hal terkait rekening dana investasi dan sewa lahan milik PT Kereta Api Indonesia.

PT Bank Tabungan Negara juga akan disetujui untuk menawarkan saham melalui skema "right issues" sekitar 12-14 persen.

Rencana penawaran saham perdana BUMN perlu mempertimbangkan pengalaman serupa sebelumnya. Pertimbangan ini dibutuhkan agar tidak terjadi gonjang-ganjing di pasar saham yang justru berujung pada rusaknya citra pemerintah.

Iskandar Sitorus, Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), mencontohkan, gonjang-ganjing seputar IPO Garuda Indonesia dan Krakatau Steel masih belum tuntas. Hal itu seharusnya menjadi pertimbangan sebelum DPR mulai membahas IPO BUMN dan ratusan anak perusahaan yang ada.

Iskandar menilai, sangat kuat dugaan adanya rekyasa administrasi dalam proses IPO, mulai dari Bidang Restrukturisasi di Kementerian BUMN sampai kepada Komite Kebijakan Privatisasi di bawah kendali Menteri Koordinator Perekonomian.

Sehingga akhirnya sampai menciptakan instabilitas kepercayaan pasar berupa gonjang-ganjing kemahalan atau kemurahan penjualan saham perdana. Isu ini tidak hanya dibicarakan oleh publik nasional tapi juga internasional. Itu bahkan kemudian sampai mencoreng kepercayaan dunia internasional terhadap Pemerintah Indonesia.

Peringatan serupa dilontarkan Wakil Ketua Komisi VI DPR yang membidangi BUMN, Perdagangan, dan Perindustrian, Aria Bima. Pemerintah, katanya, harus belajar dari IPO PT Krakatau Steel Tbk dan PT Garuda Indonesia Tbk yang dinilai tidak transparan dan akuntabel, baik saat penetapan harga maupun penjatahan saham.

Disarankan, IPO BUMN hendaknya dibedakan dari proses IPO perusahaan swasta yang go public. Persentase saham perdana BUMN harus diprioritaskan bagi sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sisanya baru diperuntukkan bagi mitra strategis dan investor asing.

Bahkan, bagi investor asing perlu dikenai pembatasan, yakni hanya boleh menjual saham BUMN yang dikuasainya minimal dua tahun seusai IPO, agar modal yang masuk dari investor asing bukan sekadar modal jangka pendek para spekulan belaka.

Untuk itu, akses rakyat membeli saham perdana BUMN harus dibuka seluas-luasnya. Jangan sampai kasus IPO Krakatau Steel terulang, di mana tempat penjualan hanya dua buah dan semuanya di Jakarta, sementara waktu penjualannya hanya dua hari.****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...