
Tiada henti Jamani menciumi anaknya.
Kaki, pantat, lengan, perut, pipi...semua bagian tubuh mungil itu tidak ada yang terlewat dari bibir dan hidungnya.
Gila-gilaan memang Jamanil mendaratkan cium sayang dan gemesnya pada buah hatinya, yang baru saja diperoleh, dua bulan lalu itu.
Anak pertamanya laki-laki. Namanya, Gagah Prakosa. Harapannya adalah agar bocah itu tumbuh menjadi lelaki yang hebat, berhasil di dalam hidupya. Dihormati banyak orang. Sukses dalam pekerjaannya.
Jamani sangat berharap akan hal itu. Seolah dia ingin menumpahkan dendamnya terhadap kehidupan, yang saat ini, dirasa kurang berpihak kepadanya. Hidup di kota kecil, tanpa embel- embel predikat pegawai, dianggap tak oke. Tak punya pekerjaan. Dilecehkan keluarga maupun tetangga.
Jamani sebenarnya bukan penganguran. Dia punya job. Dia ada proyek. Cuma memang tidak punya kantor tetap dan proyeknya tak tentu waktunya. Jadinya, ya terkadang berbulan-bulan terlihat mengangur dan sakunya tak subur-subur.
Di saat sepi order, hidup dalam tekanan dan stress seperti saat ini, Jamani mengaku, satu-satunya yang bisa menghibur dan membahagiakannya hanyalah anak dan istrinya. "Bener khan Mas? Setuju nggak sampeyan?"tanyanya pada Gofur, karibnya.
Gofur sebentar mengernyitkan dahinya. "Lalu, kalau mereka sudah membahagiakanmu, ya kamu jangan terlena. Gantian, kapan kamu akan membahagiakan mereka? Hidup tidak cukup hanya dengan cium sayang dan gemes saja sobat," sentil Gofur. ****
Komentar