Langsung ke konten utama

JANGAN MATI SEBELUM BACA INI


Cer-PELI (cerita pendek sekali)

Bu Lik kaget sekali ketika tiba-tiba Tuhan memanggilnya. Dipegangnya dadanya , namun tidak sesakit limabelas menit lalu, sebelum dokter menyatakannya mati akibat serangan jantung.

Mati, kata banyak orang, memang membebaskan kita dari segala penderitaan. Tidak ada lagi rasa sakit dari penyakit apa pun. Adanya hanya hidup senang dan tak perlu ribet pikirkan kebutuhan hidup sehari-hari

Mau makan enak, semuanya sudah tersedia. Mau pelesir kemana suka, tiba-tiba kita sudah berada di tempat yang kita impikan.

Pokoknya, kematian yang kata sebagian orang mengerikan, sebenarnya cukup menyenangkan. Melegakan hati dari segala himpitan.

Tapi Bu Lik tetap saja kaget dengan kematiannya. Di tengoknya kiri kanannya. Sepi, namun tak menyayat. Meski tak terdengar bunyi nyanyian, di hatinya serasa ada lagu yang menghanyutkan sekaligus menentramkan.

Saat itu, dia tiada teman, selain gumpalan- gumpalan awan putih yang indah, seperti dia lihat di film2 televisi, ketika masih di dunia dulu.

Sebelum kagetnya hilang tiba2 Bu Lik dikejutkan munculnya suara tanpa bentuk. "Putri Lisyetyawati Harweni, itu namamu saat di dunia?" tanya suara itu penuh wibawa.

Belum sempat Bu Lik menjawab, suara itu melanjutkan tanyanya. "Tahukah kenapa engkau dipanggil hari ini?"

"Iya betul, saya Putri. Anak pertama Pak Bagio, yang lahir Maret, sembilanbelastujuhpuluh. Namun sebelum saya menjawab yg lain, boleh kah saya tahu siapa tuan?" tanya Bu Lik mencoba mengobati kekagetannya.

"Saya akan menyebutkan siapa saya. Karena di kehidupan ini semuanya memang tidak ada lagi yang ditutup-tutupi. Aku malaikat Tuhan. Aku diutus menjemputmu, menanyaimu serta memberitahumu beberapa hal," jawab suara itu.

Bu Lik lamgsung bersujud mendengar jawaban itu. Dia pun lalu bersimbuh sambil menjawab semua pertanyaan.

"Saya memang kaget dengan panggilan mendadak ini. Namun saya sudah menduganya jauh-jauh hari. Di kehidupan saya di dunia, saya selalu memberi nasihat pada banyak orang. Berdoalah dan pasrahkan hidup ini pada Dia, maka semua persoalanmu akan beres dan rejekimu dicukupi," kata Bu Lik.

Suara itu berdehem dan melanjutkan tanya. "Apakah dengan itu kamu merasa sudah baik, sehingga Kami tertarik untuk segera memanggilmu? Ketahuliah Putri, engkau dipanggil mendadak karena kami ingin meluruskan pemahamanmu iitu."

"Engkau selalu memuji-muji seolah Tuhan haus pujian. Engkau merayu-rayu. Menyebut-nyebut Tuhan hebat dengan pamrih Tuhan memberi kecukupan di hidupmu. Bahkan dalam setiap doamu, tak jarang engkau memperlakukan Tuhanmu seperti pembantu yang bisa engkau perintah kapan saja, sesuka hatimu."

"Putri, kami butuh bukti bukan janji. Ibadah yangg tak kalah mulia dan baiknya adalah perbuatan. Kamu hanya berserah tanpa berusaha sama saja dusta. Tuhan jangan engkau perintah-perintah putri."

"Bersyukurlah dengan. perbuatan yang iklas, bukan dengan banjir kata2 dan pesta-pesta. Jangan sia-siakan rejeki yang telah diberi dengan hal-hal yangg sia-sia."
"Kamu paham Putri? Kamu akan dikembalikan dulu untuk memperbaiki hidup dan memberitahukan hal ini pada yang lain."

Mendadak kamar jenasah RS Amal Baik gaduh. Putri Lisyetyawati bin Bagio yg dinyatakan meninggal seperempat jam lalu, mengerjap-ngerjapkan matanya. #

foto: vivaforum

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...