
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Kabar kematian itu datang lagi menjemput pagi. Ia datang diiringi tangisan dari ujung telp di seberang sana.
Tapi awalmya, kabar itu sempat pula berbalut amarah. "Kamu sudah sampai dimana!!?," terdengar geram suara di ujung telp.
Tentu semula aku tak paham dg pertanyaan itu. "Aku sudah sampai Jakarta nih," sambungnya.
"Aku sekarang di Pekanbaru. Ini baru bangun. Belum sempat cuci muka dan gosok gigi, aku langsung menanak nasi," kataku mencoba cairkan suasana.
Suara di ujung sana makin marah. Dia menyebutku sebaai anak tak tahu diri. Sudah tahu neneknya tidak ada dan sore nanti dikebumikan masih saja nyantai ngurus perut.
Aku tentu saja langsung terhenyak. Kaget mendengar kabar kematian seperti itu.
"Maafkan Unggul ya mbakyu. Sungguh Unggul baru dapat kabar itu dari mbakyu....dan Unggul adalah orang yang paling kehilangan dg kepergian nenek," kataku dengan suara serak menahan tangis.
Selepas usia 12 tahun, aku lebih banyak tinggal dengan nenek. Nenek telaten sekali mengasuh dan mendampingiku tumbuh dewasa.
Belum lagi aku selesai dengan lamunan masa kecilku, tiba-tiba suara keras diiringi tangisan di hpku menyadarkanku kembali.
"Kamu harus pulang Nggul. Kamu ditunggu sodara-sodara untuk beking acara duka."
Lama aku terdiam. Tenggorokanku serasa tercekat, tak mampu berkata-kata. Banyak pikiran berkecamuk di otakku. Dadaku bergemurah menahan tangis duka dan kebingungan.
Nenek sosok berarti bagiku. Tanpa dia, aku gak bakal seperti saat ini. Kalau aku harus pulang, benarkah aku bisa menghibur hati nenekku yang sudah mati?
Untuk pulang aku harus menguras semua tabunganku. Artinya kalau aku pulang, nantinya aku justru akan membuat repot banyak orang.
Kalau pun aku datang, nenek akan tetap terbujur kaku, sementara tetangga memang akan menatapku bangga serta mencapku ssebagai anak berbakti.
Ahhhh tapi bagaimaa ya kalau aku tak pulang saja. Duit tiket bisa aku kirimkan ke kampung untuk beaya pemakaman nenek dan untuk bikin acara duka.
Lalu untuk menghibur hati nenek di alam sana? Mungkinkah kalau aku kirim doa dari jauh, lalu menggelar acara duka ssecara sederhana bersama teman2ku di sini mampu membuat nenek tersenyum bahagia di pintu surga sana?
"Ayooo Nguulll kamu harus pulang. Kami semua menunggumu di kampung," teriakan tidak realistik itu kembali menyentakku.
Aku amati hpku sebentar. Lalu aku pencet tombol off. "Nek engkau pastii tahu. Kalau aku tidak pulang di pemakamanmu, bukan berarti aku tak menyanyangimu. Engkau tahu aku bukan tipe orang pencari muka. Yang pasti aku tidak akan pernah melupakanmu dalam setiap doaku. Karena hanya itu yg kau butuhkan, pasca melewati jembatan kematian," batinku.
Komentar