Langsung ke konten utama

Kapan Bisa Bangga Pakai Produk Sendiri


KEHADIRAN mobil Kiat Esemka produksi anak-anak sekolah kejuruan di Surakarta telah menggugah rasa nasionalisme kita semua. Keberanian Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) menetapan mobil tersebut sebagai mobil dinas Walikota, membuat semua mata tertuju pada Kiat Esemka.

Memang sebelumnya sudah ada beberapa produk mobil dalam negeri seperti Kancil, GEA, dan Tawon. Namun fenomena heboh mobil Esemka, makin menunjukkan betapa besarnya kerinduan rakyat akan pentingnya mobil nasional sebagai mobil produk salah satu kebanggaan nasional.

Promosi yang dilakukan Jokowi cukup telak. Meski disindir oleh Gubernur Jawa Tengah sebagai tindakan cari muka, namun langkah Jokowi memakai Esemka diikuti para pejabat dan politisi Indonesia yang lain.

Ketua dan anggota DPR berbondong-bondong memesan Esemka. Sementara pejabat-pejabat yang lain juga tidak kalah berminatnya. Esemka menjadi tonggak baru kelahiran mobil nasional. Jika dibandingkan dengan Timor maupun Bimantara yang pernah digadang-gadang menjadi mobil nasional di zaman Orde Baru, tentulah Esemka jauh berbeda.

Produk mobil anak-anak sekolahan ini bukanlah produk sim salabim atau sulapan hanya mengganti merek belaka. Produk Esemka benar-benar memakai kandungan lokal sebanyak 80 persen dan diproduksi di tanah air.

Demam mobil nasional, sudah semestinya mendapatkan tanggapan positif dari pemerintah. Dan upaya pemerintah untuk memberikan insentif fiskal bagi pengembangan industri mobil nasional perlu mendapatkan dukungan penuh.

Anggota Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel menjelaskan, pasar mobil di dalam negeri sepanjang 2011 membukukan rekor penjualan tertinggi mencapai 893.420 unit (wholesale), tumbuh 16,83 persen dibandingkan dengan 2010 yang hanya 764.710 unit.

Berdasarkan data tentatif dari ATPM anggota Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), rekor sepanjang tahun lalu tercipta karena penjualan pada Desember 2011 yang tercatat sebanyak 79.921 unit atau tumbuh 18,12 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya 67.656 unit.

Angka tersebut jauh di atas realisasi penjualan pada Desember 2010 yang tercatat sebanyak 70.061 unit. Sepanjang tahun lalu, penjualan terbanyak masih dikuasai pemain besar seperti Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, dan Suzuki. PT Toyota Astra Motor, misalnya, menjual 310.674 unit atau sekitar 34,77 persen dari total pasar nasional.

Untuk dapat bersaing dengan pemain-pemain besar dari luar negeri, sudah tentu produsen mobil nasional layak diberi keringanan pajak, seperti pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) serta pembebasan bea masuk atas impor komponen tertentu untuk mobil nasional.

Selain itu perlu dukungan penyediaan bahan baku produksi, perlu kerja sama dengan BUMN baja dalam pengadaannya. Pemerintah juga perlu memberikan ruang agar pasar mobil nasional ini juga berkembang. Langkah tersebut seperti dilakukan Malaysia dan India dengan mobil-mobil nasional mereka.

Permintaan terhadap mobil Esemka yang sudah mencapai 2.000 unit cukup menjadi bukti bahwa ada demand yang tinggi terhadap produksi anak bangsa.

Sekarang adalah tinggal bagaimana kita, terutama pemerintah, membantu produk-produk dalam negeri tersebut mampu menghadapi persaingan dengan merek-merek terdahulu yang sudah berpengalaman.

Tapi mohon, persoalan mobil nasional ini jagan dipolitisasi ya!!?????****

Komentar

Anonim mengatakan…
saya sangat setuju dengan pendapat bapak / mas rhr dodi sarjana. kita dukung ESEMKA dengan cara Cinta produk dalam negeri, pemerintah dukung ESEMKA dengan cara memperlancar proses perijinan produksi massal sehingga ESEMKA dicintai dan digunakan masyarakat dan mampu bersaing dengan produk luar negeri.

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...