
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Ijuk beradu rambut, sama2 hitam sama2 disambut.
Ijuk berpadu rambut, hati yg takluk menjadi lembut.......
Entah sudah berapakali mantera itu aku daraskan. Dan saking cepatnya aku lafalkan sampai2 aku tak sadar ludahku berhamburan. Membasahi tanganku dan secarik kertas yg kujereng di depan wajahku.
Sudah dua tahun sejak diwisuda, blm ada perusahaan yg mau menerimaku bekerja.
Padahal sudah hampir 50 lamaran kusebar, dan sudah separuhnya menjajal kemampuanku. Tapi selalu saja aku gagal dalam testing.
Koran2 menyebut orang seperti aku sebagai pengangguran intelek. Sebutan itu sudah tentu sangat menyakitkan, krn seolah mengelompokan orang2 seperti aku ini sebagai org terbloon sedunia.
Bahkan ada pula yg menyebut aku sebagai "kaum" pemalas dan tak kreatif. Sebagai sarjana dan kaum intelek, seharusnya org2 sepert aku mampu membuat pekerjaan sendiri.
Omongan di koran memang terkadang teramat kejam. Mereka seringkali enggan melihat lebih mendalam knp orang per orang bisa gagal mendapat pekerjaan. Para pengangguran selalu saja digeneralisasi sebagai org bodoh tak punya kemampuan dan berdaya saing rendah.
Padahal di banyak kasus, yang kalah bersaing seringkali karena kalah koneksi atau kalah uang untuk melobi.
Ijuk beradu rambut, sama2 hitam sama2 disambut. Ijuk berpadu rambut, hati yang takluk menjadi lembut....
Sekali lagi aku membaca mantraku. Bukan untuk menaklukkan gadis untuk menjadi pacar. Tapi untuk melobi dewa2 dan dunia supranatural agar membantuku dapatkan pekerjaan.
Aku ingin menaklukkan hati bos perusahaan yang aku incar. Aku tak punya uang atau koneksi orang besar. Aku hanya punya mantra warisan kakekku.
Aku belum stress atau gila khan? (ds, pku januari 2012
Komentar