
ALAM Indonesia yang menyimpan kekayaan luar biasa, membutuhkan pengelolaan secara matang dan terstrukur agar bisa dipanen secara maksimal dan berkelanjutan. Salah satu kekayaan kita yang tiada tandingan adalah minyak dan gas bumi (migas).
Demi meningkatkan hasil yang maksimal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta jajarannya untuk bisa merealisasikan produksi minyak 1 juta barel per hari di 2014. Sebagai regulator hulu migas, BP Migas mengaku siap melakukan eksplorasi minyak secara besar-besaran.
Saat ini, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengakui ada penurunan cadangan migas. Penurunan paling drastis terjadi pada cadangan minyak di 1 Januari 2011 yakni mencapai 4,039 miliar barel. Sedangkan estimasi cadangan terbukti di 2012, sekitar 3,925 miliar barel.
Dikatakan Deputi Pengendalian Operasi BPMIGAS Rudi Rubiandini, cadangan terbukti gas bumi juga mengalami tren penurunan namun tidak sedrastis minyak. Pada awal Januari 2011 cadangan terbukti mencapai 104,7 triliun standar kaki kubik gas bumi, sedangkan estimasi di Januari 2012 104,5 triliun kaki kubik gas.
Sepanjang 2011, BP Migas mencatat tambahan cadangan migas baru masing-masing 215,5 juta barel minyak dan 2,86 triliun kaki kubik gas bumi. Namun realisasi produksinya jauh lebih tinggi, atau sekitar 329,9 miliar barel minyak dan 3,08 triliun kaki kubik gas.
Mendorong impian presiden menjadi kenyataan, pemerintah perlu melakukan usaha besar- besaran, semisal melakukan eksplorasi dalam skala besar. Dalam kaitan kerja out of the box, selanjutnya menggabungkan semua pekerjaan di area yang sama beberapa KKKS (kontraktor kontrak kerjasama) dengan rig-nya sama. Dengan demikian akan terjadi percepatan.
Selain itu, BP Migas juga perlu mendorong agar sumur-sumur minyak dipercepat masa produksinya agar target bisa tercapai. Masalah tumpang tindih lahan migas dan perizinan eksplorasi juga perlu dipercepat, karena perizinan sering menjadi penghalang.
Terkait hal itu, desakan Menteri ESDM Jero Wacik agar Mobil Cepu Ltd untuk segera running perlu didukung penuh. Perusahaan patungan ExxonMobil dan Pertamina EP tersebut wajib mempercepat proyek Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu Jawa Timur agar target produksi minyak 1 juta barel per hari bisa direalisasikan.
Minyak dari Blok Cepu merupakan salah satu andalan pemerintah untuk peningkatan produksi minyak nasional. Percepatan proyek Lapangan Banyu Urip sejalan dengan perintah Presiden SBY agar ada langkah nyata dan aktif mengantisipasi terjadinya ketahanan energi dan pangan pada masa depan yang semakin kritis.
Pemerintah mengharapkan produksi perdana dari pengembangan penuh Lapangan Banyu Urip bisa dipercepat menjadi di Juli 2014 dengan estimasi produksi awal sekitar 90.000 barel per hari. Skala produksi penuh diharapkan bisa terwujud pada Oktober 2014 dengan tingkat produksi 165.000 barel per hari.
Saat ini realisasi produksi minyak rata-rata Indonesia adalah sekitar 904 ribu barel per hari. Jika ada tambahan sekitar 165 ribu barel per hari dari Blok Cepu, maka target 1 juta barel per hari bisa tercapai.
Selain itu, peningkatan eksplorasi memang mutlak perlu dilakukan. BP Migas selaku regulator kegiatan hulu migas pemerintah diharapkan terus mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKS), memprioritaskan program eksplorasi di lahan tidur.
Selanjutnya, wilayah eksplorasi, harus didorong pelaksanaan komitmen pasti. Dalam pemilihan pemenang wilayah kerja perlu dilakukan screening test yang lebih ketat untuk mendapatkan kontraktor yang mampu secara finansial, teknis, dan sumber daya manusianya. ****
Komentar