Langsung ke konten utama

Merajut Kebersamaan Lewat Perayaan Imlek


TAHUN baru China, Imlek, baru saja kita rayakan bersama. Pesta rakyat ini juga digelar di seluruh penjuru dunia dengan kemeriahannya masing-masing. Tidak ada sekat di dalamnya, setiap orang merasa "terlibat" dan bergembira bersama-sama.

Warga yang merayakan, terlihat dengan sungguh-sungguh menjalaninya. Sementara warga yang merasa terhibur dengan sajian kesenian saat perayaan Imlek, juga puas dan ikut bersuka cita memeriahkan tahun baru tersebut dengan caranya sendiri.

Imlek, bukanlah perayaan agama. Kata Imlek berasal dari bahasa Hokkian Selatan yang mempunyai arti, penanggalan bulan. Penghitungan ini, selain berdasarkan atas peredaran Bulan mengelilingi Bumi (lunar calender), juga berdasarkan pada berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari (solar calender).

Karena berdasarkan dua perhitungan, maka dilakukan penyesuaian melalui mekanisme bulan ulang atau Lun Gwee. Caranya dengan menyisipkan dua bulan tambahan pada setiap lima tahun. Dengan penambahan itu, penanggalan untuk Imlek biasa disebut juga sebagai penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).

Bukan sebagai hari besar agama, Imlek awalnya adalah hari petani atau perayaan pesta menyambut musim semi. Sebenarnya bukan melulu pesta yang dilakukan berkenaan dengan Imlek, namun penekanannya adalah pada pendarasan doa. Doa kepada sang Pencipta atas datangnya musim semi dan doa pengharapan agar di panen mendatang hasilnya lebih berlimpah- limpah.

Imlek juga menjadi sarana untuk lebih dalam menjalin tali silaturahmi dan persaudaraan dengan sesama. Karenanya siapa pun dia, merayakan Imlek tanpa batasan kepercayaan dan agama. Di negeri Tirai Bambu sendiri, Imlek diperingati bersama oleh warga yang beragama Konghucu, Budha, Hindu, Islam, Katolik, dan Kristen.

Tentu, dengan semangat kebersamaan tanpa melihat latar belakang keagamaan atau kepercayaan, Imlek bukanlah satu kegiatan ekslusif. Imlek adalah kegiatan inklusif karena tidak terkait dengan agama atau golongan tertentu.

Dengan semangat Imlek, kita bisa bersatu dalam pemikiran untuk kemajuan ke depan. Lewat perayaan Imlek, kita bisa memanjatkan doa untuk kemakmuran kita bersama. Memang sudah selayaknya segala perbedaan tidak dicoba untuk dihapus, namun untuk diterima dan dihargai keberadaannya.

Justru dengan perbedaan, pemikiran kita bisa beragam dan bisa menghasilkan banyak ragam inovasi. Pemikiran yang berbeda akan memperkaya inovasi. Semua yang berbeda bisa bersatu memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.

Semoga dengan semangat Imlek, kita semua makin terbuka untuk mendengar dan bahkan menerima pendapat orang lain. Dengan semangat membuka diri, kita bisa mengikis sekat-sekat yang ada di antara kita.

Dengan mengedepankan harmonisasi kehidupan, perbedaan justru harus menjadi mesin pendorong untuk lebih maju ke depan. Pada prinsipnya hidup harmonis bukanlah hanya satu warna.

Dalam harmonisasi kehidupan, kita justru tidak menghapuskan perbedaan, tapi tetap menjaganya agar perbedaan pemikiran bisa dikelola menjadi sinergi satu dengan yang lainnya. Ibarat seperangkat alat musik, antara gitar, drum, keyboard, dan yang lainnya tidaklah mempunyai kesamaan.

Namun ketika seperangkat alat musik yang berbeda tersebut dimainkan dalam satu pemikiran yang kompak, hasilnya adalah alunan musik yang merdu. Demikian pula dalam seluruh aspek kehidupan kita ini. Ketika kita bisa mengelola perbedaan, maka yang muncul adalah kekuatan dahsyat untuk mencapi kemajuan. Itulah yang bisa kita ambil dari momentum Imlek. ****

(foto: poskota.co.id)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...