Langsung ke konten utama

Pembatasan BBM, Perlukah?


LANGKAH pemerintah akan mengetatkan subsidi bahan bakar minyak (BBM), seperti akan segera digesa. Pekan ini, dijadwalkan, pemerintah akan mengeluarkan surat penugasan kepada PT Pertamina (Persero) untuk menjalankan program pembatasan BBM.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita Legowo mengatakan, penugasan tersebut menjadi dasar bagi Pertamina sebagai pelaksana program pembatasan. Sesuai UU No 22 Tahun 2011 tentang APBN 2012, pemerintah diamanatkan melakukan pembatasan premium di Jawa-Bali mulai April 2012.

Menurut rencana, program pembatasan akan dimulai di wilayah Jabodetabek per 1 April 2012, dilanjutkan Surabaya pada Juni dan seluruh Jawa-Bali tuntas pada akhir 2012. Lewat program tersebut, pemerintah menargetkan penghematan pemakaian premium sebesar 5,5 juta kiloliter pada 2012, sehingga sesuai dengan kuota APBN sebesar 37,5 juta kiloliter.

Sampai saat ini, diklaim kesiapan infrastruktur untuk pembatasan tersebut di wilayah Jawa-Bali sudah mencapai 97 persen. Dari 3.062 SPBU yang ada di Jawa-Bali, terdapat 2.767 SPBU yang menjual pertamax dan 295 lainnya memerlukan investasi tangki timbun.

Kebijakan pembatasan BBM yang akan diberlakukan pemerintah, sebenarnya masih menuai banyak kritikan. Kebijakan tersebut dinilai kian memberatkan rakyat. Rakyat makin sengsara karena hak rakyat mendapatkan pelayanan dan pemenuhan sektor energi terutama BBM tidak dipenuhi oleh pemerintah.

Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani menyoroti, alasan pemerintah untuk penghematan sungguh naif, tidak fair dan malah tidak masuk akal. Pemerintah seharusnya memikirkan bagaimana memperbesar penerimaan negara sehingga kecukupan anggaran dapat dipenuhi.

"Hindari utang luar negeri yang makin menjerat negara dan rakyat, juga batalkan segera kebijakan pembatasan BBM. Langkah pemerintah harus segera menarik dana pajak dari perusahaan-perusahaan migas dan pertambangan, membereskan segera mafia energi dan tidak tanggung tanggung dalam melakukan reformasi birokrasi di ESDM dan sektor lain yang menjadi operator dan pengguna energi," ujar Dewi Aryani.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI (Bidang perindustrian, perdagangan, BUMN, dan Koperasi), Aria Bima, juga melontarkan sikap yang sama. Kepada media Aria menyebut kebijakan seolah tanpa persiapan. Konversi bahan bakar minyak (BBM) ke gas merupakan kebijakan tambal sulam, tidak ada persiapan memadai, sehingga tak tepat jika dilaksanakan sekarang ini.

Seperti dikutip Antara, Aria menyatakan, kebijakan konversi tersebut terkesan tergesa-gesa, tanpa persiapan matang dan hanya akan membuat masalah baru.

Ada beberapa alasan mengapa akan muncul persalan baru. Diantaranya adalah masyarakat harus membeli alat konversi BBM ke gas ('converter kit') yang mahal dan masih harus diimpor. Diperkirakan, harga converter kit ini nyaris Rp 15 juta per buah.

Persoalan lain yang akan muncul adalah terkait penyediaan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) yang masih sangat jarang dan tidak merata. Di Indonesia, terhitung baru ada 16 SPBG. Itu pun semua ada di Jakarta dan hanya delapan yang masih bisa beroperasi.

Dalam penerapanya, kebijakan pembatasa BBM diprediksi akan bisa menimbulkan berbagai ekses baru. Dikhawatirkan, kasusnya akan bisa mengulangi kekisruhan konversi minyak tanah ke gas beberapa waktu lalu.

Menurut Aria, ketika mobil pribadi dilarang membeli premium bersubsidi, tapi pada saat yang sama mereka kesulitan memperoleh pertamax, lantaran SPBU penjualnya belum ada di daerah- daerah bersangkutan. Atau, ketika kendaraan telanjur dimodifikasi untuk mengkonsumsi gas, namun SPBU penjual gasnya tidak ada, atau masih terbatas.

Belum lagi adanya realita bahwa tidak semua pemilik mobil adalah orang kaya. Di tanah air kita, banyak pedagang kecil, petani, yang memakai mobil sebagai alat produksi, untuk angkutan sehari-hari. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...