
PLANET bumi semakin tua usianya, dan planet bumi sudah semakin padat penghuninya. Sampai hari ini, jumlah penduduk bumi sudah melewati angka tujuh miliar jiwa. Dalam pemberitaan media massa, beberapa waktu lalu, bayi asal Filipina, oleh badan khusus PBB yang menangani proyek populasi global, UNFPA, dinobatkan sebagai penduduk bumi ketujuh miliar.
Bayi yang lahir Kamis (31/10/2011) dengan berat 2,8 kilogram, di RS Jose Fabella tersebut diberi nama Danica May Camacho. Ia merupakan anak kedua pasangan Camille Dalura (ibu) dan Florante (ayah).
Kelahiran Danica disambut gembira orangtuanya serta rakyat Filipina. Danica bakal mendapatkan beasiwa untuk menuntut ilmu kelak. Namun pemberian gelar manusia ke-7 miliar bagi Danica sebenarnya membawa pesan mendalam bagi kita semua.
Pesan tersebut berupa peringatan bahwa jumlah penduduk makin padat dan menimbulkan ancaman tersendiri di bidang pangan. Menurut laporan UNFPA, negara bayi Danica menempati posisi 12 dalam daftar negara terpadat di dunia dengan 94,9 juta penduduk. Nomor satu masih dipegang Cina dengan 1,35 miliar penduduk, disusul India dengan 1,24 miliar penduduk, lalu Amerika Serikat, dan urutan kelima Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa.
Penduduk Asia sebesar 4,2 miliar merupakan wilayah dengan jumlah penduduk paling padat di dunia. Sementara itu, tingkat pertumbuhan penduduk di Afrika diperkirakan tiga kali lipat menjadi 3,6 miliar pada awal abad berikutnya.
Sekjen PBB Ban Ki-moon pun menyambut kelahiran Danica dengan muram. Menurutnya, siapapun yang lahir, dia akan lahir dalam dunia yang penuh kontradiksi. Banyak makanan, tapi miliaran orang kelaparan. Banyak yang hidup mewah, tapi masih banyak yang hidup tidak sejahtera.
Kelahiran penduduk ke-7 miliar dunia adalah pertanda bahaya. Hanya dalam waktu 12 tahun sejak Oktober 1999, penduduk bumi bertambah satu miliar orang. Warga dunia beranak pinak dan bertambah tiga kali lipat sejak 1945.
Jika nantinya laju pertumbuhan penduduk dunia tidak bisa dikendalikan, di masa mendatang kita semua harus siap-siap menghadapi krisis multidimensi. Di antaranya krisis pangan dan gizi, krisis energi serta krisis di antara masyarakat.
Saat ini, ada sekitar tujuh miliar orang yang membutuhkan cukup makanan, energi, memperoleh kesempatan kerja dan pendidikan. Mereka butuh HAM dan kemerdekaan, bersuara, dan mengurus anak mereka dalam kedamaian dan keamanan.
Hingga 2050, penduduk dunia akan meningkat 33 persen, dari sekitar tujuh miliar orang menjadi sembilan miliar orang. Bersamaan dengan itu, permintaan terhadap pangan, air, dan energi akan meningkat 30-50 persen. Kekurangan pangan di salah satu negara yang padat penduduknya pasti menimbulkan efek domino terhadap negara lain.
Cina dan India merupakan dua negara penduduk terpadat di dunia. Keduanya pemasok sekaligus konsumen pangan yang sekecil apa pun goncangan stabilitas pangannya pasti memengaruhi pangan global.
Tahun demi tahun ancaman bertambah, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman ekonomi global. Pertumbuhan populasi yang tak terkendali berarti akan membuat makin keras upaya untuk memberi kemakmuran pada setiap jiwa. Negara berpenduduk besar akan bergulat mengatasi masalah kependudukan seperti urbanisasi, degradasi kualitas lingkungan, permintaan kesehatan, pendidikan dan layanan sosial lainnya.
Dengan tingginya angka kelahiran, hendaknya kita semua sadar bahwa ledakan laju pertumbuhan penduduk dunia dan Indonesia khususnya, bukanlah kabar gembira karena kita mendapatkan banyak sumber daya manusia (SDM). Namun realita itu adalah peringatan keras bagi kita semua. ****
Komentar