
Cer-PELI (cerita pendek sekali)
Bangun tidur Pak Puh terlihat gelisah. Pagi yang tenang, penuh ketentraman tak bisa membuatnya nyaman.
Duduk di pinggir kasur, tak enak. Pikirannya malah menyusur ke mana2. Hendak sujud syukur pun, dia merasa hanya akan berbohong pada Tuhan, dan pada diri sendiri.
Pak Puh sungguh galau. Dicubitnya pahanya sendiri berkali-kali. Dikuceknya mata kuat-kuat. Tetap saja semuanya nyata.
Ingin rasanya pria tua itu kembali berselimut sarung dan melanjutkan mimpinya ketimbang harus menjemput siang.
Kehilangan kawanan prenjak tempo hari sudah membuat hatinya tersiksa. Dan kini tdk tahu, apakah dirinya akan kuat menyongsong cobaan.
Pak Puh beringsut keluar kamar. Langkahnya berat menuju teras. Lama dipandanginya sudut-sudut halaman rumahnya.
Hatinya menangis, tapi mata tuanya sdh tidak bisa memproduksi aiir mata. Di angannya melayang-layang kenangan masa lalu.
Di rumah inilah, dan di halaman itu, dulu Pak Puh kecil merenda kehidupan bersama teman2nya.
Lama Pak Puh termenung sebelum akhirnya tangannya memungut remasan kertas yg tadi dihempaskannya ke lantai.
Dibukanya lagi remasan kertas itu. Ditarik-tariknya pinggirnya spy agak rapi.
Sekali lagi dan perlahan diejanya kalimat2 yang ada di sana.
Kepada yg terhormat seluruh warga Desa Suka Damai. Diharap kedatangannya di balai desa untuk penandatanganan jual beli tanah seluruh desa dengan PT Perumahan Makmur abadi.....................ttd Sukirman,Kepala desa.
"Jambu alas!" teriak Pak Puh sambil meremas kembali kertas undangan itu dan membantingnya ke lantai.
Pak Puh kalah suara. Hanya dia dan Pak Sukeimi yg enggan desanya diusik.
Dipukulnya pipinya berulang-ulang, seakan dia tetap menginginkan bhw semuanya hanya mimpi....
Komentar