
CUACA ekstrim yang melanda Riau beberapa hari terakhir ini mulai memberikan dampak yang cukup serius. Setelah sempat tercatat nihil pantauan titik panas, pada Kamis (5/1), Riau kembali dikepung titik panas. Menurut laporan pantauan Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) 18 milik Singapura, Jumat (6/1) pagi, tercatat 22 titik panas di Riau.
Laporan itu juga menyebutkan, di Sumut terpantau 11 titik panas, di Bengkulu 5 titik panas, di Jambi 4 titik panas, NAD 2 titik panas, serta Sumsel satu titik panas.
Menurut analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru, Marzuki di Pekanbaru, jumlah hot spot tersebut jauh meningkat dibandingkan hari sebelumnya (Rabu 4/1), dimana untuk Sumatra masih terdapat sekitar 17 titik api dan di Riau ada lima.
Ke-22 titik api yang tersebar di Riau, masing-masing terdeteksi di Kabupaten Pelalawan sebanyak tujuh titik, Rokan Hilir (empat), Kuantan Sengingi juga empat titik. Titik api juga terdapat di Kabupaten Bengkalis (tiga), serta masing-masing satu untuk empat kabupaten lainnya, meliputi Indragiri Hulu, Kampar, Rokan Hulu dan Kota Dumai.
Jika kondisi cuaca masih seperti saat ini, dan kondisi suhu udara masih berada di atas 33 derajat celcius, dikawatirkan jumlah titik panas akan terus bertambah. Apalagi beberapa hari ini di wilayah Riau jumlah curah hujannya cukup minim.
Pakar lingkungan Universitas Riau, Tengku Ariful Amri menyebutkan, cuaca ekstrim yang melanda sebagian besar wilayah Tanah Air khususnya Riau merupakan dampak terhambatnya siklus hidrologi.
Sirkulasi air yang seharusnya tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi, tersendat sehingga terjadi penumpukan penguapan yang akhirnya menyebabkan kondisi ekstrim di berbagai wilayah Tanah Air.
Di wilayah Riau, kondisi ekstrim tersebut memicu musim hujan dan kemarau datang secara tiba-tiba tanpa dapat diramalkan secara pasti. Tidak terpolanya bentuk hidrologi di muka bumi ini, salah satunya karena alam di tanah air tidak lagi terjaga dengan baik dan bahkan telah mengalami kerusakan parah.
Ekosistem yang ada diberbagai wilayah Tanah Air, saat ini tidak bisa lagi memberi jaminan tatanan hidrologi yang kondusif atau tidak lagi reguler. Menurut analisa Ariful, kondisi seperti itu bisa juga dikarenakan, hutan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah tidak memadai lagi, ditambah dengan kondisi lingkungan yang kian kritis.
Disamping kondisi iklim yang terjadi saat ini mengalami kecenderungan monokultur, tidak lagi bersahabat dengan lingkungan dan penghuninya.
Sebelum semuanya terlambat dan menjadi lebih tidak terkontrol, pemeritah dengan masyarakat sebaiknya segera melakukan pembenahan terhadap alam. Perlu dilakukan antisipasi jangka panjang, dengan melakukan penghijauan kembali, atau menghidupkan lagi hutan-hutan yang telah dirusak dan beralih fungsi menjadi lahan perkebuna.
Bumi kita makin tua dan renta, sementara penghuninya makin bertambah banyak. Jika keseimbangan alam tidak terjaga dengan baik, maka akan sulit bagi penghuninya untuk memperoleh kehidupan yang layak, aman dan nyaman.
Kita hidup tidak tergantung pada uang, tetapi kepada kemurahan alam. Alam yang terjaga, lingkungan yang tertata, pohon-pohon yang kokoh dan lebat berdiri, adalah gantungan hidup kita semua di dunia.
Alam yang terjaga dengan baik akan memberikan keramahan kepada kita semua. Jangan biarkan alam murka dan "mengusir" kita dari bumi. ****
foto: greenpeace
Komentar