Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)
Nama Sony Bintangterang alias SB tiba-tiba membuat heboh seantero kampung Sarikembangan. Fotonya banyak dipajang di pojok-pojok kampung. Tatapan matanya dingin, menusuk hingga ke hati. Senyumnya yang mengembang penuh misteri. Susah ditebak laiknya senyum Monalisa.
Bukan karena menjadi buron foto SB banyak dipajang di sana. SB memang seolah menjelma jadi ikon baru kampung tersebut. Dialah pahlawan baru Sarikembangan, setelah kiprahnya menguak korupsi desa yang dilakukan Pak Carik.
Kepopuleran SB, serta merta menggeser ketokohan Raden Koessudarto (RK) yang sebelumnya dianggap dewa Kampung Sarikembangan. Kurus tinggi dengan potongan rambut agak panjang digelung, nama besar RK sangat tak terbantahkan.
Dialah cikal bakal desa tersebut. Dialah yang babat alas membuka perkampungan baru bagi warga pelarian dari wilayah sengketa Beran Panas.
Dari bocah kecil hingga tetua, sejak sekitar 12 tahun lalu, semuanya mengidolakan RK. Di warung-warung kopi, tidak pernah tidak nama RK selalu menjadi topik pembicaraan. Dan barangkali itu lalu menjadi semacam syarat di setiap obrolan, bahwa jika hendak memulai pertemuan, harus bercerita tentang kehebatan RK terlebh dahulu. Itu pakem.
Kini, mendadak, setelah SB dengan gagah berani membongkar aib Pak Carik, pakem desa berubah. Sejak satu minggu lalu, begitu pantat menempel di kursi warung kopi, kehebatan SB langsung menjadi omongan seru. Bintang SB memang mewujud dari namanya, Sony Bintangterang.
"Ayem aku sekarang. Kalau mau ngurus surat tanah atau nikah tak perlu lagi repot-repot menyiapkan uang pelicin. Pak Sony ini memang oye. Berani ya dia melawan kukuhnya kekuasan dan kebiasan di sini. Pak Raden saja, sesepuh desa kita, tak kuwagang dan mengaku kuwalahan membongkar aib desa ini," ujar Toto Suparto pada Cemplon, lelaki tua yang rambutnya tampak menyusut.
"Semoga ini menjadi momentum bagi kita untuk beringsut dari orde kegelapan Kangmas. Pasca dipenjaranya Pak Carik, harus menjadi momentum kita semua untuk juga melengserkan Pak Lurah. Dialah penggede yang membekengi semua tindakan gak bener selama ini," sahut Kang Bonang.
Pembicaraan lalu menjadi senyap. Masing-masing warga sibuk dengan pikiran mereka masing- masing. Kalau Pak Lurah dipaksa mundur, lalu siapa kira-kira yang pantas menggantikannya? Mungkinkah Pak Raden?
"Ah...Pak Raden terlalu lembek. Gerak-geriknya aja kayak cewek. Kurang cepat dan trengginas dab. Banyak pertimbangan. Dan sekarang, kadang omongannya banyak ngisruh. Mungin karena dimakan usia ya. Kalau dulu sih boleh lah kira-kira mengajukan beliau," usul Mas Kriwul.
"Nah.....kenapa gak kita usulkan saja pahlawan baru kita? SB...SB...SB. Aku usul dia saja calon tunggal kita. Tapi......," kata Bu Beno dengan pernyataan menggantung.
"Tapi kenapa?" sahut Mbok Teti yang kebetulan mampir membeli lauk buat makan sore anaknya.
"SB ki bekas wong galak je Yu," jawab Bu Beno.
"Mangsude...?" ujar Suplis menyambung.
"Dia, di kota Kecamatan, terkenal dadi preman lo, kepiye jal?" cepat Bu Beno manyahut.
Semua terdiam lagi.
"Haalllaaah....itu khan dulu. Coba lihat tuh, bupati, gubernur, menteri, atau politisi aja pernah ada yang jadi preman. Bahkan yang masih juga mrepan ada. Ra masalah SB. Asal kita semua mendukung dan selalu memberi masukan yang baik-baik buat dia. Lagian siapa tahu dia sudah sadar sepenuhnya. Yo ra?" tiba-tiba Mas Awedos memecah kesunyian.
"Gimana? Setuju........? Kalau setuju bungkus," sambung Aa Dede.
"Sik...sik, jangan bubar dulu pertemuannya ya. Saya sondretnya dulu biar ada bukti dan kenang- kenangan atas kesepakatan kita bersama," kata Aryo Wungkal. ****
Nama Sony Bintangterang alias SB tiba-tiba membuat heboh seantero kampung Sarikembangan. Fotonya banyak dipajang di pojok-pojok kampung. Tatapan matanya dingin, menusuk hingga ke hati. Senyumnya yang mengembang penuh misteri. Susah ditebak laiknya senyum Monalisa.
Bukan karena menjadi buron foto SB banyak dipajang di sana. SB memang seolah menjelma jadi ikon baru kampung tersebut. Dialah pahlawan baru Sarikembangan, setelah kiprahnya menguak korupsi desa yang dilakukan Pak Carik.
Kepopuleran SB, serta merta menggeser ketokohan Raden Koessudarto (RK) yang sebelumnya dianggap dewa Kampung Sarikembangan. Kurus tinggi dengan potongan rambut agak panjang digelung, nama besar RK sangat tak terbantahkan.
Dialah cikal bakal desa tersebut. Dialah yang babat alas membuka perkampungan baru bagi warga pelarian dari wilayah sengketa Beran Panas.
Dari bocah kecil hingga tetua, sejak sekitar 12 tahun lalu, semuanya mengidolakan RK. Di warung-warung kopi, tidak pernah tidak nama RK selalu menjadi topik pembicaraan. Dan barangkali itu lalu menjadi semacam syarat di setiap obrolan, bahwa jika hendak memulai pertemuan, harus bercerita tentang kehebatan RK terlebh dahulu. Itu pakem.
Kini, mendadak, setelah SB dengan gagah berani membongkar aib Pak Carik, pakem desa berubah. Sejak satu minggu lalu, begitu pantat menempel di kursi warung kopi, kehebatan SB langsung menjadi omongan seru. Bintang SB memang mewujud dari namanya, Sony Bintangterang.
"Ayem aku sekarang. Kalau mau ngurus surat tanah atau nikah tak perlu lagi repot-repot menyiapkan uang pelicin. Pak Sony ini memang oye. Berani ya dia melawan kukuhnya kekuasan dan kebiasan di sini. Pak Raden saja, sesepuh desa kita, tak kuwagang dan mengaku kuwalahan membongkar aib desa ini," ujar Toto Suparto pada Cemplon, lelaki tua yang rambutnya tampak menyusut.
"Semoga ini menjadi momentum bagi kita untuk beringsut dari orde kegelapan Kangmas. Pasca dipenjaranya Pak Carik, harus menjadi momentum kita semua untuk juga melengserkan Pak Lurah. Dialah penggede yang membekengi semua tindakan gak bener selama ini," sahut Kang Bonang.
Pembicaraan lalu menjadi senyap. Masing-masing warga sibuk dengan pikiran mereka masing- masing. Kalau Pak Lurah dipaksa mundur, lalu siapa kira-kira yang pantas menggantikannya? Mungkinkah Pak Raden?
"Ah...Pak Raden terlalu lembek. Gerak-geriknya aja kayak cewek. Kurang cepat dan trengginas dab. Banyak pertimbangan. Dan sekarang, kadang omongannya banyak ngisruh. Mungin karena dimakan usia ya. Kalau dulu sih boleh lah kira-kira mengajukan beliau," usul Mas Kriwul.
"Nah.....kenapa gak kita usulkan saja pahlawan baru kita? SB...SB...SB. Aku usul dia saja calon tunggal kita. Tapi......," kata Bu Beno dengan pernyataan menggantung.
"Tapi kenapa?" sahut Mbok Teti yang kebetulan mampir membeli lauk buat makan sore anaknya.
"SB ki bekas wong galak je Yu," jawab Bu Beno.
"Mangsude...?" ujar Suplis menyambung.
"Dia, di kota Kecamatan, terkenal dadi preman lo, kepiye jal?" cepat Bu Beno manyahut.
Semua terdiam lagi.
"Haalllaaah....itu khan dulu. Coba lihat tuh, bupati, gubernur, menteri, atau politisi aja pernah ada yang jadi preman. Bahkan yang masih juga mrepan ada. Ra masalah SB. Asal kita semua mendukung dan selalu memberi masukan yang baik-baik buat dia. Lagian siapa tahu dia sudah sadar sepenuhnya. Yo ra?" tiba-tiba Mas Awedos memecah kesunyian.
"Gimana? Setuju........? Kalau setuju bungkus," sambung Aa Dede.
"Sik...sik, jangan bubar dulu pertemuannya ya. Saya sondretnya dulu biar ada bukti dan kenang- kenangan atas kesepakatan kita bersama," kata Aryo Wungkal. ****
Komentar