Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)
Mata Maryadi menerawang jauh, menembus lipatan awan di depannya. Tangannya bersandar lemas di jendela kapal. Ganasnya ombak tak mampu menyadarkannya dari lamunan.
Pelupuk matanya digenangi air mata, pelan-pelan jatuh membasahi pipinya yang tebal.
Tubuh Maryadi yang gempal, besar dan kokoh, tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Sebagai lelaki dia pernah berujar pantang untuk menangis. Tapi kali ini......tak ada satu penghiburan pun yang bisa menghalau kegalauan hatinya.
Baru seminggu lalu, lelaki ini meninggalkan anak dan istrinya untuk kembali mengais rezeki, jauuuh di ujung dunia. Sebenarnya dia belum tega untuk meninggalkan buah hatinya yang baru saja selesai menjalani operasi. Tapi tuntutan hidup tidak bisa diabaikan begitu saja.
Semula Maryadi sempat dililit kebingunan untuk menerjemahkan rasa cintanya pada keluarga. Dia ingin selalu berdekatan dengan anak istri untuk bisa memanjakan mereka dengan candaan, cubitan, belaian, atau perhatian secara langsung.
Tapi hidup tidaklah segampang itu, ada tuntutan lain yang harus Maryadi penuhi. Kalau dulu ada pepatah mangan ora mangan asal ngumpul (makan tidak makan asalkan bisa berkumpul), sekarang pepatah itu sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Apalagi Maryadi tidak punya keahlian sebagai petani untuk mengolah tanah keluarga yang ada.
Keahlian Maryadi terlalu khusus. Di kampungnya keahlian itu tidak bisa diterapkan. Dan sayangnya lagi, dia tidak punya daya adaptasi yang tinggi serta kesabaran yang cukup.
Bahu besar "dibingkai" jendela kapal itu, kini terlihat terguncang-guncang. Sepertinya pemiliknya sudah semakin tak bisa menahan gejolak hatinya. Dua hari lalu dia terima kabar lewat inbox di facebooknya. Istrinya berkabar, sang buah hati masuk rumah sakit lagi.
"Aku ingin pulang saja. Aku ingin menjaga anakku. Kasihan juga istriku. Aku harus selalu di samping mereka," ratapnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Tapi tiba-tiba seperti ada suara dari relung hatinya yang paling dalam. "Kalau kamu pulang, apa yang bisa kamu lakukan untuk kesembuhan anakmu. Bisakah kamu menggantikan peran para dokter yang merawat. Atau, mau dan bisakah kamu menggantikan posisi anakmu yang sedang tergolek lemas?"
"Biarlah masing-masing peran dijalankan oleh masing-masing orang pula. Bentuk kecintaan tidak harus selalu berdekatan. Justru, saat ini, cintamu teramat besar, karena kamu harus berjauhan untuk mencukupi semua kebutuhan. Termasuk ongkos pengobatan anakmu."
Maryadi beranjak dari jendela dan berlari ke kamarnya. Ditutupnya pintu rapat-rapat. Lalu, sambil meraung dia mencoba bersenandung, memuliakan Sang Pemilik Hidup Sejati. ****
Mata Maryadi menerawang jauh, menembus lipatan awan di depannya. Tangannya bersandar lemas di jendela kapal. Ganasnya ombak tak mampu menyadarkannya dari lamunan.
Pelupuk matanya digenangi air mata, pelan-pelan jatuh membasahi pipinya yang tebal.
Tubuh Maryadi yang gempal, besar dan kokoh, tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Sebagai lelaki dia pernah berujar pantang untuk menangis. Tapi kali ini......tak ada satu penghiburan pun yang bisa menghalau kegalauan hatinya.
Baru seminggu lalu, lelaki ini meninggalkan anak dan istrinya untuk kembali mengais rezeki, jauuuh di ujung dunia. Sebenarnya dia belum tega untuk meninggalkan buah hatinya yang baru saja selesai menjalani operasi. Tapi tuntutan hidup tidak bisa diabaikan begitu saja.
Semula Maryadi sempat dililit kebingunan untuk menerjemahkan rasa cintanya pada keluarga. Dia ingin selalu berdekatan dengan anak istri untuk bisa memanjakan mereka dengan candaan, cubitan, belaian, atau perhatian secara langsung.
Tapi hidup tidaklah segampang itu, ada tuntutan lain yang harus Maryadi penuhi. Kalau dulu ada pepatah mangan ora mangan asal ngumpul (makan tidak makan asalkan bisa berkumpul), sekarang pepatah itu sudah tidak sesuai lagi dengan zamannya. Apalagi Maryadi tidak punya keahlian sebagai petani untuk mengolah tanah keluarga yang ada.
Keahlian Maryadi terlalu khusus. Di kampungnya keahlian itu tidak bisa diterapkan. Dan sayangnya lagi, dia tidak punya daya adaptasi yang tinggi serta kesabaran yang cukup.
Bahu besar "dibingkai" jendela kapal itu, kini terlihat terguncang-guncang. Sepertinya pemiliknya sudah semakin tak bisa menahan gejolak hatinya. Dua hari lalu dia terima kabar lewat inbox di facebooknya. Istrinya berkabar, sang buah hati masuk rumah sakit lagi.
"Aku ingin pulang saja. Aku ingin menjaga anakku. Kasihan juga istriku. Aku harus selalu di samping mereka," ratapnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Tapi tiba-tiba seperti ada suara dari relung hatinya yang paling dalam. "Kalau kamu pulang, apa yang bisa kamu lakukan untuk kesembuhan anakmu. Bisakah kamu menggantikan peran para dokter yang merawat. Atau, mau dan bisakah kamu menggantikan posisi anakmu yang sedang tergolek lemas?"
"Biarlah masing-masing peran dijalankan oleh masing-masing orang pula. Bentuk kecintaan tidak harus selalu berdekatan. Justru, saat ini, cintamu teramat besar, karena kamu harus berjauhan untuk mencukupi semua kebutuhan. Termasuk ongkos pengobatan anakmu."
Maryadi beranjak dari jendela dan berlari ke kamarnya. Ditutupnya pintu rapat-rapat. Lalu, sambil meraung dia mencoba bersenandung, memuliakan Sang Pemilik Hidup Sejati. ****
Komentar