Cer-PELI (Cerita Pendek Sekali)
Mas Slempit masih sibuk merapikan rambutnya, ketika rombongan tamu perusahaan jamu "Sehat Bugar" memasuki aula pertemuan. Sebagai Bos Besar di anak cabang perusahaan PT Turbin Jembar, Mas Slempit, pagi itu, mendapat peran utama untuk menerima para tamu yang cantik dan seksi.
Tentu yang cantik hanya empat tamu wanita, sementara dua orang lelaki yang "mengawal" mereka, yang satu terlihat uzur dan lainnya terkesan angker meski murah senyum. Tapi tunggu dulu, angkernya ternyata langsung menghilang tatkala dia buka suara. Serta merta, kemayunya muncul.
Mas Slempit masih menyelesaikan satu tarikan sisirnya ke belakang kepala, ketika para tetamu mulai meletakkan pantatnya di kursi biru. "Selamat paaggii, sszalam ssejahtera," ujar Mas Slemit mengawali pidatonya.
"Mohon maaf lho. Saya agak tergesa menyambut ibu-ibu dan bapak berdua. Ehh..saya panggilnya ibu atau mbak ya," ujar Mas Slempit sambil tersenyum menggoda, mencoba memecah kebekuan pagi.
"Saya baru turun dari bandara langsung ke sini. Tadi sekretaris telpon saya, katanya ada tamu penting. Mbak, mbak dan bapak, mohon maaf lo. Saya ini cukup suuibuk sekali. Di sana sini disuruh menjabat dan memimpin. Jadinya saya harus bisa membagi badan dan pikiran menjadi bercabang-cabang."
"Bisa dibayangkan to, betapa repotnya saya. Di kota ibu kota, saya juga penasehatnya walikota, selain jadi direktur dunia hiburan tipi kabel PT Berbelit. Untung saja, saya masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk merangkap pula menjalankan bisnis Pesona Gambar Wayang. Yah namanya juga cari rezeki," ujar Mas Slempit mencoba merendahkan kesombongannya sendiri.
Entahlah mengapa dia harus memarmerkan jabatan-jaatannya itu di depan tetamu wanitanya. Mungkin saja dia pernah punya pengalaman buruk ketika masih jadi bawahan dulu. Sebenarnya, kalau hanya untuk menarik hati wanita, tampang dan uangnya, rasanya sudah cukup menjanjikan
Tapi kata Fety teman dekatnya, Slempit memang suka pamer dan dipuji. Dirinya senang kalau dianggap orang penting, dan dia tidak akan ragu mengklaim punya banyak peran atau jabatan untuk menyakinkan lawan bicaranya.
Pernah Slempit menyombongkan diri menjadi koordinator Ekspedisi Kapal Api keliling Indonesia. Celakanya, yang dia pameri, kebetulan menjadi salah satu anggota ekspedisi tersebut. Tapi bukanlah Slempit namanya kalau tidak bisa berbelit dan menyelempitkan kesalahannya.
"Oh bukan itu yang saya maksudkan mas. Duluuu, kopi cap Kapal Api pernah melakukan kegiatan road show keliling Indonesia. Nah saya ikut di dalamnya untuk mempromosikan itu," kata Mas Slempit, berkelit, kala itu.
Perihal nama Slempit, sebenarnya kami juga punya kisah tersendiri dengan menjulukinya nama itu. Slempit ini memang terkenal pelit dan tukang entit. Kami pernah memergokinya menyelempitkan dana muhibah ketika rombongan perusahaan hendak ke studi banding ke kota Bali.
Tapi caranya cukup rapi. Kami tahu ke mana dia menyelempitkan dana itu, tapi kami tak bisa berbuat banyak, karena dia menyelempitkannya di daerah "terlarang". Lihai dia! ****
Mas Slempit masih sibuk merapikan rambutnya, ketika rombongan tamu perusahaan jamu "Sehat Bugar" memasuki aula pertemuan. Sebagai Bos Besar di anak cabang perusahaan PT Turbin Jembar, Mas Slempit, pagi itu, mendapat peran utama untuk menerima para tamu yang cantik dan seksi.
Tentu yang cantik hanya empat tamu wanita, sementara dua orang lelaki yang "mengawal" mereka, yang satu terlihat uzur dan lainnya terkesan angker meski murah senyum. Tapi tunggu dulu, angkernya ternyata langsung menghilang tatkala dia buka suara. Serta merta, kemayunya muncul.
Mas Slempit masih menyelesaikan satu tarikan sisirnya ke belakang kepala, ketika para tetamu mulai meletakkan pantatnya di kursi biru. "Selamat paaggii, sszalam ssejahtera," ujar Mas Slemit mengawali pidatonya.
"Mohon maaf lho. Saya agak tergesa menyambut ibu-ibu dan bapak berdua. Ehh..saya panggilnya ibu atau mbak ya," ujar Mas Slempit sambil tersenyum menggoda, mencoba memecah kebekuan pagi.
"Saya baru turun dari bandara langsung ke sini. Tadi sekretaris telpon saya, katanya ada tamu penting. Mbak, mbak dan bapak, mohon maaf lo. Saya ini cukup suuibuk sekali. Di sana sini disuruh menjabat dan memimpin. Jadinya saya harus bisa membagi badan dan pikiran menjadi bercabang-cabang."
"Bisa dibayangkan to, betapa repotnya saya. Di kota ibu kota, saya juga penasehatnya walikota, selain jadi direktur dunia hiburan tipi kabel PT Berbelit. Untung saja, saya masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk merangkap pula menjalankan bisnis Pesona Gambar Wayang. Yah namanya juga cari rezeki," ujar Mas Slempit mencoba merendahkan kesombongannya sendiri.
Entahlah mengapa dia harus memarmerkan jabatan-jaatannya itu di depan tetamu wanitanya. Mungkin saja dia pernah punya pengalaman buruk ketika masih jadi bawahan dulu. Sebenarnya, kalau hanya untuk menarik hati wanita, tampang dan uangnya, rasanya sudah cukup menjanjikan
Tapi kata Fety teman dekatnya, Slempit memang suka pamer dan dipuji. Dirinya senang kalau dianggap orang penting, dan dia tidak akan ragu mengklaim punya banyak peran atau jabatan untuk menyakinkan lawan bicaranya.
Pernah Slempit menyombongkan diri menjadi koordinator Ekspedisi Kapal Api keliling Indonesia. Celakanya, yang dia pameri, kebetulan menjadi salah satu anggota ekspedisi tersebut. Tapi bukanlah Slempit namanya kalau tidak bisa berbelit dan menyelempitkan kesalahannya.
"Oh bukan itu yang saya maksudkan mas. Duluuu, kopi cap Kapal Api pernah melakukan kegiatan road show keliling Indonesia. Nah saya ikut di dalamnya untuk mempromosikan itu," kata Mas Slempit, berkelit, kala itu.
Perihal nama Slempit, sebenarnya kami juga punya kisah tersendiri dengan menjulukinya nama itu. Slempit ini memang terkenal pelit dan tukang entit. Kami pernah memergokinya menyelempitkan dana muhibah ketika rombongan perusahaan hendak ke studi banding ke kota Bali.
Tapi caranya cukup rapi. Kami tahu ke mana dia menyelempitkan dana itu, tapi kami tak bisa berbuat banyak, karena dia menyelempitkannya di daerah "terlarang". Lihai dia! ****
Komentar