Cer-peli (cerita pendek sekali)
"En....ayo nduk, makan siang. Nanti keburu dingin sayurnya." Sudah dua kali, kudengar suara ibuku mengingatkanku untuk segera makan.
Sebel aku mendengarnya. Sok perhatian banget sih. Suaranya cempreng, tidak hanya mengganggu kupingku, tapi juga terasa menyakiti hatiku.
Aku ingat betul kejadian menjengkelkan, kala aku masih belajar d SMA, waktu itu. Ibuku penentang utama hubunganku dengan Samhudi.
Samhudi, katanya, lelaki yang tak cocok untukku. "Kalau kamu tanya kenapa tak cocok, mungkin ibu tidak bisa menceritakannya dengan detil. Hanya saja, hati kecil ibu nggak sreg. Terasa ada yang mengganjal, En," kata ibu ketika kudesak alasannya.
Sejak itulah perang dingin antara aku dengan ibu semakin subur. Aku, bagai tiada takut akan kutukan anak durhaka, selalu menentangnya. Ibu yang susah payah mengandung dan melahirkanku, tak lebih kuanggap bagai Nenek Lampir. Nyinyir.
Herannya, ibuku tak pernah marah atas sikapku. Dia tetap saja berusaha lembut. Selalu senyum, meski kala itu, senyumnya selalu kubalas dengan muka masam.
Sore ini aku duduk di teras bersama ibu. Tangannya yang sudah keriputan di sana-sini aku genggam erat. Sesekali aku usap dan belai.
Pandangan kami sama-sama jauh. Menembus temaramnya sore, menatap dua anakku bersendaugurau di pinggir jalan perumahan.
Hatiku rasanya damai ketika ibu menyandarkan kepalanya di lenganku. Pelan aku bisikkan permintaan maaf padanya. "Ibu maafkan aku selalu menentangmu. Di usiaku yang sudah kepala empat, ternyata aku belum bisa membahagiakanmu."
"Eny anakku. Ibu sudah sangat bahagia sekali nduk. Ibu senang melihat keluargamu bahagia. Senang melihat kamu dengan Romy rukun-rukun selalu," kata ibu sambil mengusap rambutku.
Aku akhirnya memang menikah dengan Romi. Samhudi, yang kata ibuku tak cocok, menelikungku dan memilih menikah diam-diam.
Aku tak bisa berkata-kata mendengar ketulusan cinta ibu padaku. Ketika aku melawan, ternyata dia tak pernah sedetikpun tergoda untuk meladeniku. Bahkan dia justru selalu mendoakanku.
Kugenggam tangan ibu makin erat. Kuciumi tangan hitam dan keriput itu. Air mataku tumpah membasahinya. Kurasakan badan ibu berguncang di kursi rodanya. ****
"En....ayo nduk, makan siang. Nanti keburu dingin sayurnya." Sudah dua kali, kudengar suara ibuku mengingatkanku untuk segera makan.
Sebel aku mendengarnya. Sok perhatian banget sih. Suaranya cempreng, tidak hanya mengganggu kupingku, tapi juga terasa menyakiti hatiku.
Aku ingat betul kejadian menjengkelkan, kala aku masih belajar d SMA, waktu itu. Ibuku penentang utama hubunganku dengan Samhudi.
Samhudi, katanya, lelaki yang tak cocok untukku. "Kalau kamu tanya kenapa tak cocok, mungkin ibu tidak bisa menceritakannya dengan detil. Hanya saja, hati kecil ibu nggak sreg. Terasa ada yang mengganjal, En," kata ibu ketika kudesak alasannya.
Sejak itulah perang dingin antara aku dengan ibu semakin subur. Aku, bagai tiada takut akan kutukan anak durhaka, selalu menentangnya. Ibu yang susah payah mengandung dan melahirkanku, tak lebih kuanggap bagai Nenek Lampir. Nyinyir.
Herannya, ibuku tak pernah marah atas sikapku. Dia tetap saja berusaha lembut. Selalu senyum, meski kala itu, senyumnya selalu kubalas dengan muka masam.
Sore ini aku duduk di teras bersama ibu. Tangannya yang sudah keriputan di sana-sini aku genggam erat. Sesekali aku usap dan belai.
Pandangan kami sama-sama jauh. Menembus temaramnya sore, menatap dua anakku bersendaugurau di pinggir jalan perumahan.
Hatiku rasanya damai ketika ibu menyandarkan kepalanya di lenganku. Pelan aku bisikkan permintaan maaf padanya. "Ibu maafkan aku selalu menentangmu. Di usiaku yang sudah kepala empat, ternyata aku belum bisa membahagiakanmu."
"Eny anakku. Ibu sudah sangat bahagia sekali nduk. Ibu senang melihat keluargamu bahagia. Senang melihat kamu dengan Romy rukun-rukun selalu," kata ibu sambil mengusap rambutku.
Aku akhirnya memang menikah dengan Romi. Samhudi, yang kata ibuku tak cocok, menelikungku dan memilih menikah diam-diam.
"Ibu tak pernah marah dan kecewa
kepadamu. Bahkan ibu selalu berdoa supaya hidupmu bahagia. Ibu dulu
selalu memohon supaya Gusti mengirimkan jodoh yang cocok untukmu. Syukur
doa ibu didengarkan," kata ibu.
Aku tak bisa berkata-kata mendengar ketulusan cinta ibu padaku. Ketika aku melawan, ternyata dia tak pernah sedetikpun tergoda untuk meladeniku. Bahkan dia justru selalu mendoakanku.
Kugenggam tangan ibu makin erat. Kuciumi tangan hitam dan keriput itu. Air mataku tumpah membasahinya. Kurasakan badan ibu berguncang di kursi rodanya. ****
Komentar