Langsung ke konten utama

GURU OH GURU


Aku keluarga guru.
Kakekku, Kerto Mihardjo, guru jaman Belanda. Bapak ibuku juga guru di dua jaman, Orde Lama dan Orde Baru. Bapak guru sekolah teknik (ST-setingkat SMP), ibu guru SD.

Dua kakakku, ikut-ikutan jadi guru, atau lebih menterengnya disebut dosen.
Adikku, satu-satunya, kini juga tengah bekerja keras mewujudkan impiannya menjadi guru.

Di sela kesibukannya yang wira-wira menjadi perekrut tenaga kerja, dia selesaikan kuliah S-2 nya sebagai syarat menjadi dosen.

Sekeluarga cuma aku yang bukan guru. Aku cuma buruh -- atau istilah 'manusiawinya' -- karyawan, sebuah perusahaan 'jasa'.

Tak ada keberanian aku mengikuti alur darah menjadi guru. Terlalu berat tanggungjawabnya. Semuanya serba terukur dan diukur.

Tanggungjawab berat, tapi gaji sudah ada takaran ukurannya. Segitu-gitu saja. Kalau tidak cekatan cari tambahan, bisa nelangsa denger rengekan anak minta uang buku dan saku.

Pekerjaan memintarkan siswa bukanlah ringan. Sementara perilaku guru sangat jadi ukuran, layak tidaknya dia dianggap guru.

Berat...berat jadi guru. Dimana-mana yang namanya guru selalu jadi panutan dan teladan. Guru, digugu dan ditiru. Artinya, dipercaya dan patut diteladani.

Di saat sengsara, guru sebaiknya tak terlihat putus asa. Di kala sedih, mimiknya diharap tak bermuram durja. Saat gagal dalam cinta, tak elok kalau patah hati.

Pokoknya guru harus terlihat sebagai sosok tangguh, tahan banting, ulet, pintar menyiasati dan mengelola hidup. Kalau tidak demikian, guru tidak bisa jadi contoh. Tidak bisa menginspirasi.

Jaman dulu, guru memang sosok ideal bagi mahluk yang namanya manusia. Meski manusia disebut gudangnya kekurangan dan kesalahan, sosok guru jauh dari kategoti itu.

Berbeda dengan jaman kini. Guru belum tentu patut ditiru. Barangkali, karena saat ini, predikat guru lebih karena menjadi tujuan mencari pekerjaan atau uang, dan bukan sebagai panggilan hati, maka banyak guru yang keblinger.

Belum lama ini kubaca di koran, ada guru yang menempeleng muridnya gara-gara persoalan sepele. Muridnya sampai pingsan.

Di televisi diberitakan, ada oknum guru yang mencabuli siswanya. Bayangkan, hampir seluruh siswa perempuan di satu kelas di SD, diperlakukan tidak senonoh. Bejat...sungguh bejat moral oknum guru itu.

Tapi aku masih percaya, hakikat guru sebenarnya masih tetap mulia. Yang mengalami dekadekansi atau kemerosotan bukan hakikatnya, tapi oknumnya. Siapa oknumnya? Ya, kita manusia semua ini.

Khan yang jadi guru manusia to? Nggak ada macan jadi guru, atau kera jadi guru, kucing, anjing, atau hewan lainnya?

Hewan tidak ada yang jadi guru. Manusialah sebenarnya guru bagi yang lain.Tapi untuk saat ini, tidak ada salahnya juga kita belajar dari hewan. Ada pepatah mengatakan, sebuas-buas harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri.

Sementara lihat realita di sekitar kita. Sealim-alim manusia, ternyata ada yang tega 'memangsa' dan menjual anaknya sendiri.

Oh..........
Ooh......guru (kehidupan), kurindu berat sosokmu. ****

Komentar

Win Halim mengatakan…
Kurindu berat sosokmu.., seberat tumpukan kontainer di pelabuhan.. hehehehe
Win Halim mengatakan…
by jambrong

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...