Cer-peli (cerita pendek sekali)
Suaramu terdengar agak serak, di ujung sana. Parau engkau menyatakan gembiramu
"Sudah 77 tahun, le, kususuri lekuk-lekuk hidup ini. Banyak suka, banyak pula susah yang kulewati. Perjalananku ke depan, tentu tak sepanjang yang telah kulewati. Aku berharap yang tersisa tinggal bahagia saja," ujarmu sedikit tersedak.
Pagi itu, aku meneleponmu. Sudah agak siang, tapi rasanya aku tidak terlambat mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. 77 tahun, waktu yang tak terduga sama-sekali.
"Iya, Le. Aku doakan saja, doaku terkabul ya," katamu meminta 'kado' dariku.
Aku terbengong, lalu langsung menyanggupinya. Sambil mulai berdoa dalam hati aku bertanya, kenapa hanya minta kado itu?
Kurasakan ada kesedihan dan harapan dalam hatimu saat menjawab. Sambil sedikit terisak, engkau mengatakan ujub doamu minta tambahan umur. Engkau ingin melihat cucu dan cicitmu dewasa. "Syukur-syukur, aku bisa menimang cucuku yang terakhir, yang selama ini baru hanya dalam mimpiku," sebutmu memelas.
Tersebab itulah, katamu, engkau ingin tambahan usia. "Aku takut....dulu di tahun 97, di saat sakit, aku pernah ketrucut doa minta usia sampai 77 tahun saja. Tapi kini, ...Semoga Gusti kersa mendengar doaku yg baru, ya Le. Aku meraa belum selesai dengan hidup ini.."
Aku percaya Gusti akan mendengarnya Bu. Kesetianmu menjalani kehidupan selama ini, walau banyak susahnya, akan menjadi jaminan.
Aku, dan menantumu, anak-anakmu serta menantumu yg lain, cucu-cucu dan cicit akan mendoakan doamu yang baru. Yang pasti, kami juga ingin bersamamu, di dunia ini, lebih lama. ****
Suaramu terdengar agak serak, di ujung sana. Parau engkau menyatakan gembiramu
"Sudah 77 tahun, le, kususuri lekuk-lekuk hidup ini. Banyak suka, banyak pula susah yang kulewati. Perjalananku ke depan, tentu tak sepanjang yang telah kulewati. Aku berharap yang tersisa tinggal bahagia saja," ujarmu sedikit tersedak.
Pagi itu, aku meneleponmu. Sudah agak siang, tapi rasanya aku tidak terlambat mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. 77 tahun, waktu yang tak terduga sama-sekali.
"Iya, Le. Aku doakan saja, doaku terkabul ya," katamu meminta 'kado' dariku.
Aku terbengong, lalu langsung menyanggupinya. Sambil mulai berdoa dalam hati aku bertanya, kenapa hanya minta kado itu?
Kurasakan ada kesedihan dan harapan dalam hatimu saat menjawab. Sambil sedikit terisak, engkau mengatakan ujub doamu minta tambahan umur. Engkau ingin melihat cucu dan cicitmu dewasa. "Syukur-syukur, aku bisa menimang cucuku yang terakhir, yang selama ini baru hanya dalam mimpiku," sebutmu memelas.
Tersebab itulah, katamu, engkau ingin tambahan usia. "Aku takut....dulu di tahun 97, di saat sakit, aku pernah ketrucut doa minta usia sampai 77 tahun saja. Tapi kini, ...Semoga Gusti kersa mendengar doaku yg baru, ya Le. Aku meraa belum selesai dengan hidup ini.."
Aku percaya Gusti akan mendengarnya Bu. Kesetianmu menjalani kehidupan selama ini, walau banyak susahnya, akan menjadi jaminan.
Aku, dan menantumu, anak-anakmu serta menantumu yg lain, cucu-cucu dan cicit akan mendoakan doamu yang baru. Yang pasti, kami juga ingin bersamamu, di dunia ini, lebih lama. ****
Komentar