(cer-peli: cerita pendek sekali)
Secarik undangan bersampul biru muda, sedari tadi masih kugenggam erat. Lama kutimang-timang. Sepertinya sudah lebih dari lima kali isinya kucabut. Kubaca berulang-ulang, lalu kumasukkan lagi ke dalam sampulnya.
Sekali lagi, kueja kata-kata yang tertera di sampul itu. "Menjemput Rindu.....Yang terhormat sekaligus tercinta, Bapak...." lidahku tercekat. Tenggorokan mendadak terasa kaku.
Ada rasa haru. Dengan mata yang terasa agak perih kuteruskan membaca. Nama kecilku tertera di sana. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang tahu nama itu.
Kubuka lagi sampul itu. Lalu kubaca lagi isinya. Di bawahnya tertulis, Salam, panitia reuni SDK: Pak Lay, Jendul, Layling, Petor, Ernul.
Nama-nama itu semakin menenggelamkan ingatanku pada masa 40-an tahun lalu. Bukan hanya masa-masa manis yang langsung berloncatan menari. Namun masa-masa sedih dan susah membaur di sana.
Tapi sungguh, yang pahit pun kini terkenang manis. Beruntung aku belajar berbagi sejak kecil. Pagi, ibuku menggoreng tempe tipis-tipis supaya cukup untuk kami satu rumah yang isinya berdelapan dengan dua sepupu. Tempe hanya bersanding nasi berkuah minyak jelantah, bekas gorengan.
Kalau lagi beruntung, kami dapat potongan telor. Sebutir telor dicampur tepung dan air lalu digoreng. Lagi-lagi dipotong tipis. Rasanya sungguh nikmat. Tak pernah lagi aku bisa mendapatkan rasa nikmat seperti itu.
Ayah ibuku selalu mengajari kami bersyukur dalam segala kondisi. "Kalau melihat jangan mendongak. Lihatlah....kita masih diberi rezeki dan makanan Banyak sesama kita yang bahkan dalam sehari pun belum tentu terisi perutnya," kata ayahku suatu saat.
Yang lebih membuatku beruntung lagi, tak pernah sekalipun aku kehilangan belaian sayang dari ayah ibu dan saudaraku. Ada saja cara mereka menumpahkan rasa sayang di tengah kekurangan.
Itu pula yang membuatku kaya di tengah-tengah kekayaan sesungguhnya yang dimiliki kawan-kawanku seperti Petor, Layling, Ernul, maupun Pak Lay.
Namun sungguh, kawan-kawan yang kini Menjemputku dengan Rindu, sebenarnya adalah juga kekayaanku di masa lalu yang tak habis hingga kini.
Mereka menyimpan keceriaan masa kecilku, dan kini mereka mengembalikan keceriaan dan semua kekayaan masa laluku. Hhhemmmm...makin lengkaplah hidupku.****
Secarik undangan bersampul biru muda, sedari tadi masih kugenggam erat. Lama kutimang-timang. Sepertinya sudah lebih dari lima kali isinya kucabut. Kubaca berulang-ulang, lalu kumasukkan lagi ke dalam sampulnya.
Sekali lagi, kueja kata-kata yang tertera di sampul itu. "Menjemput Rindu.....Yang terhormat sekaligus tercinta, Bapak...." lidahku tercekat. Tenggorokan mendadak terasa kaku.
Ada rasa haru. Dengan mata yang terasa agak perih kuteruskan membaca. Nama kecilku tertera di sana. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang tahu nama itu.
Kubuka lagi sampul itu. Lalu kubaca lagi isinya. Di bawahnya tertulis, Salam, panitia reuni SDK: Pak Lay, Jendul, Layling, Petor, Ernul.
Nama-nama itu semakin menenggelamkan ingatanku pada masa 40-an tahun lalu. Bukan hanya masa-masa manis yang langsung berloncatan menari. Namun masa-masa sedih dan susah membaur di sana.
Tapi sungguh, yang pahit pun kini terkenang manis. Beruntung aku belajar berbagi sejak kecil. Pagi, ibuku menggoreng tempe tipis-tipis supaya cukup untuk kami satu rumah yang isinya berdelapan dengan dua sepupu. Tempe hanya bersanding nasi berkuah minyak jelantah, bekas gorengan.
Kalau lagi beruntung, kami dapat potongan telor. Sebutir telor dicampur tepung dan air lalu digoreng. Lagi-lagi dipotong tipis. Rasanya sungguh nikmat. Tak pernah lagi aku bisa mendapatkan rasa nikmat seperti itu.
Ayah ibuku selalu mengajari kami bersyukur dalam segala kondisi. "Kalau melihat jangan mendongak. Lihatlah....kita masih diberi rezeki dan makanan Banyak sesama kita yang bahkan dalam sehari pun belum tentu terisi perutnya," kata ayahku suatu saat.
Yang lebih membuatku beruntung lagi, tak pernah sekalipun aku kehilangan belaian sayang dari ayah ibu dan saudaraku. Ada saja cara mereka menumpahkan rasa sayang di tengah kekurangan.
Itu pula yang membuatku kaya di tengah-tengah kekayaan sesungguhnya yang dimiliki kawan-kawanku seperti Petor, Layling, Ernul, maupun Pak Lay.
Namun sungguh, kawan-kawan yang kini Menjemputku dengan Rindu, sebenarnya adalah juga kekayaanku di masa lalu yang tak habis hingga kini.
Mereka menyimpan keceriaan masa kecilku, dan kini mereka mengembalikan keceriaan dan semua kekayaan masa laluku. Hhhemmmm...makin lengkaplah hidupku.****
Komentar