MEMBELI kerupuk dari kota Rengat. Belum lagi lapuk tapi batang itu sudah dimakan ngengat.
Jam tiga dinihari aku sudah terjaga dari tidur. Suara ringikan anak anjing di luar, menyadarkanku dari mimpi. Aneh, suara itu sebelumnya jadi bagian dari cerita mimpiku.
Hampir dua jam, aku akhirnya blingsatan sendiri. Mata tak mau lagi terpejam. Ingatanku terus berkejaran. Menyulam kembali mimpi-mimpi masa lalu.
Aku katakan mimipi-mimpi, memang senyatanya mimpiku tidak tunggal. Banyak, saling rangkai-merangkai. Berpilin.
Orang-orang di masa laluku, yg masih hidup maupun yg sudah mati, datang mengerumuni. Tertawa dan menangis dalam sebuah lingkaran.
Ada yang menanyakan cinta, yang lain menyatakan benci. Ada yang menanyakan kehidupan, yang lain menggugat kematian.
Antara tawa dengan tangis, cinta dengan benci, baik dengan jahat, dan mati dengan hidup, memang seolah tak berjarak. Terpisah hanya sehelai rambut.
Masa lalu dengan sekarangpun jadi dekat. Kait-mengkait. Kau cabut yg satu, yang lain akan ikut tercerabut.
Tiba-tiba semua teman di masa laluku mulai melempariku dengan segenggam tanah. Aku yang terbujur di liang tak mampu berkata-kata dan mengelak. Bahkan kurasa otot bibirku tertarik kesamping. Membuat lekukan senyum.
Semua tertawa-tawa. Bergembira. Bertepuk tangan. Menari-nari sampai ada yang tak sadar menginjak perut anak anjing yang ikut berdesakkan mengantar jasadku.
Ringikan atau tepatnya rintihan anak anjing sontak terlontar keras. Aku gelapan terbangun. Kuraba kepalaku, masih hangat. Perut juga masih terasa tak enak. Apalagi badan, terasa seperti habis diinjak gajah.
Tapi rasa sakit itu, paling tidak mengisyaratkan masih ada kehidupan di saat aku terbangun. Sakit bukanlah penyebab dan penanda kematian. Sakit justru mengingatkan bahwa aku masih hidup.
Mati, itu hanya soal rasa. Rasa hati lah yang bisa menyebabkan mati. Dan rasa hatilah sebenarnya sejatinya hidup.
Aku tanya padamu kawan, bagaimana menurutmu? ****
Komentar