HARI Natal telah lewat satu hari. Tapi Maria masih setia duduk di kursi rodanya, di depan pintu rumah tuanya. Lehernya berbalut selendang. Sementara jaket lusuh, coklat muda, membalut tubuh rentanya.
Sedikit bulir airmata masih tersisa di sudut mata. Pelan dilepasnya kacamatanya, lalu air mata itupun diseka dengan punggung tangan yang sudah keriputan.
Sejenak terbayang sosok suaminya yang sudah puluhan tahun pergi. Lalu diikuti bayangan anaknya yang sudah tiga Natal ini tidak pulang-pulang.
Cerita yang dibawa tetangganya mengabarkan, anaknya didera sakit di negeri orang. Tak mampu bangun, meski hanya sekedar untuk menerima suapan nasi.
Maria makin gelisah ketika tahu penyakit anaknya mirip2 penyakit yang membawa pergi suaminya. "Mengapa aku kehilangan keberanian untuk menjenguk anakku? Ingin sebenarnya aku melawan penyakitku sendiri ini. Tapi apa daya, pergi ke kamar mandi saja aku seringkali harus dipapah," tangis Maria kembali pecah.
Usia Maria sudah hampir menyentuh angka 80. Anaknya empat orang, cucunya sembilan dan cicitnya baru satu. Sejak muda dia sudah bersahabat dengan berbagai penyakit berat.
Seringkali, di saat sakit, dia melupakan rasa sakitnya, ketika mendengar salah satu anak atau cucunya sakit. Atau tidak jarang pula, dia paling merasa menderita jika ada anaknya yang mendapat pencobaan hidup.
"Aduh nak.....aku memang sedih dirimu tak bisa pulang. Tapi kesedihan itu tak mengalahkan kesedihanku membayangkan kesendirianmu. Hanya kau dan keluargamu yang tak bisa berkumpul. Kau dan anak istrimu yang sabar ya. Nanti pasti Tuhan memberikan ganti kebahagiaan yang lain. Yang penting lagi, kamu harus cepet sehat," sambil menangis Maria mendaraskan doa.
Pagi ini, Maria melupakan lagi sakitnya. Padahal sejak kemarin, sesak nafasnya kambuh. Kepalanya pusing dan tidak bisa tidur. Beranjak dari tempat tidur saja dilakukannya dengan susah payah. ******
Komentar