Langsung ke konten utama

TAK ELOK DONG FASILITASI KORUPTOR


(catatan atas perang melawan budaya korupsi)

SEMANGAT memerangi korupsi, harus selalu kita tumbuhkan bersama. Ketika semangat itu mulai mengendor, muncul secara sporadis, dan hanya berkobar di hati sebagian masyarakat kita, maka bisa dipastikan upaya tersebut akan sia-sia dan tidak segera berbuah.
 

Semangat tersebut, terutama sekali kita harapkan tumbuh subur secara serentak di hati para pejabat, politikus, wakil rakyat, serta tokoh-tokoh yang ada di bumi pertiwi kita. Semangat para koruptor yang hendak mematikan api perang melawan korupsi harus kita lawan secara bersama- sama dan terus menerus.
 

Manakala kita lengah sedikit saja, maka kobaran budaya api korupsi juga akan cepat membesar. Jika sudah demikian akan emakin sulit lah bagi kita semua untuk memadamkannya. Mengingat, budaya korupsi sudah menjalar ke segala sisi kehidupan masyarakat kita.
 

Para mafia korupsi selalu mencari celah untuk melakukan dan melindungi aksinya. Segala cara mereka lakukan untuk melindungi kegiatan bejatnya. Segala kedok dilakukannya. Ada yang berkedok cinta tanah air, berkedok cinta sesama, bahkan dengan berkedok agama pun, mereka tidak segan-segan melakukan aksi korupsi.
 

Baru-baru ini, kasus terbakarnya Lapas Tanjung Gusta menjadi pemantik tersendiri terhadap aksi penolakan antikorupsi. Banyak pihak tak bertanggungjawab yang mengkaitkan aksi kerusuhan dengan upaya pengetatan remisi.
 

Pengetatan remisi terhadap koruptor, teroris, dan lain sebagainya mereka anggap tidak pro kemanusiaan. Padahal senyatanya, aksi korupsi dan teror adalah justru tindakan-tindakan yang sangat jauh dari sikap pro kemanusiaan. Para koruptor, nampaknya tengah berupaya membalikkan fakta.
 

Menyusul aksi kerusuhan di lapas, muncul kabar Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso memfasilitasi narapidana  korupsi menyurati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait PP 99/2012 tentang Pengetatan Remisi. Tentu tindakan wakil rakyat tersebut memantik masalah. Tak hanya perbuatan itu dianggap tak berpihak pada pemberantasan korupsi, namun Priyo juga dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPR.
 

"Kita akan laporkan Priyo ke BK, karena tindakannya telah mencederai citra DPR sebagai perwakilan rakyat yang antikorupsi," tegas Peneliti ICW Emerson Yuntho. Laporan akan dilaksanakan pekan depan melalui Koalisi Masyarakat Sipil terdiri ICW, LBH Jakarta, YLBHI, Indonesian Legal Roundtable, Transparency International Indonesia (TII) dan Konsorsium Reformasi Hukum Nasional.
 

Priyo Budi Santoso sendiri berkelit dan menilai ICW salah mengerti dan merespon secara berlebihan terkait suratnya kepada Presiden SBY yang berisi curhat 109 narapidana agar mendapatkan remisi. 
Priyo mengatakan sebagai pimpinan DPR, ia menandatangani ratusan surat serupa dari aduan masyarakat. Termasuk dari mantan panglima GAM atau tentang konflik agraria. 


"Itu tugas konstitusi. Sekarang bola ada di pemerintah mau diapakan. Sesuai bidang tugas, masalah politik dan hukum yang meneken biasanya saya," katanya.
 

Namun tetap saja langkah itu terasa kurang elok. Koalisi Masyarakat Sipil menilai tindakan Priyo memfasilitasi ratusan narapidana korupsi untuk menggugat PP 99/2012 yang mengatur persyaratan khusus atau pengetatan remisi kepada terpidana kasus korupsi telah merusak citra parlemen.
 

Tindakan tersebut terasa memalukan. Kredibilitas parlemen akan semakin merosot di mata publik dengan tindakan DPR yang memfasilitasi atau memperjuangkan kepentingan koruptor. Langkah itu juga terasa kontradiktif dengan semangat pemberantasan korupsi oleh masyarakat, lembaga penegak hukum dan pemerintah.
 

Harusnya anggota DPR memfasilitasi kepentingan jutaan rakyat Indonesia agar koruptor dihukum seberat-beratnya dan tidak mendapat perlakuan istimewa. Bukan justru memfasilitasi segelintir kepentingan mereka. ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...