Cer-peli (cerita pendek sekali)
081793118.. kurang dua angka lagi kupencet hp-ku untuk menelponmu. Mendadak aku tersadar, sekarang bukan lagi dirimu yang memegang hp itu.
Sebenarnya sepele saja mengapa tiba-tiba aku ingin meneleponmu. Pagi tadi aku sarapan lontong sayur.
Saat itu, sebenarnya belum banyak yang datang, tapi entah mengapa pesananku belum datang-datang juga.
Sementara bangku belakangku, yang datangnya jauh setelah aku, kulihat sudah hampir separo melahap isi piringnya.
Tapi tak apalah, orang sabar katanya disayang Tuhan. Deket rezeki serta banyak kerabat. Slogan yang terpampang di spanduk di depan dudukku pun makin membuatku 'nrimo'.
Tertulis begini, "Jika anda puas kabarkan pada kawan, jika anda tidak puas sampaikan pada kami"
Tapi sungguh bukan soal harus menunggu itu yang membuatku ingat padamu. Tapi menu lontong sayur itulah yang membawa kenangan manis padamu.
Dulu, sering engkau membuatkanku masakan lontong. Lontong opor bukan lontong sayur.
Engkau menyebutnya masakan 'sederhana' tapi bergizi. Mudah dibuat dan murah. Cukup satu paha ayam disuwir-suwir untuk satu rumah.
Tak terasa mataku pedih. Tapi senggolan penjual lontong sayur di lenganku saat mengangsurkan makanan, menyadarkan lamunanku.
Reflek kuraih hp.. kupencet nomor ibuku. Belum selesai kupencet semua nomor, aku teringat ibu sudah hampir tiga bulan tinggal bersamaNYA. Tentu tidak ada sinyal kalau aku meneleponnya.
Kini tinggal kenangan-kenangan manis bersamanya yang suka menghampiriku. Menu lontong opor, salah satunya.
Sungguh tiada bandingnya kelezatan lontong opor ibuku dibanding menu lontong-lontong lainnya. Lontong yang dibuat dengan sepenuh hati dan rasa cinta, mampu membuat kami tak terpisahkan satu sama lain, dimanapun dan kapanpun.****
081793118.. kurang dua angka lagi kupencet hp-ku untuk menelponmu. Mendadak aku tersadar, sekarang bukan lagi dirimu yang memegang hp itu.
Sebenarnya sepele saja mengapa tiba-tiba aku ingin meneleponmu. Pagi tadi aku sarapan lontong sayur.
Saat itu, sebenarnya belum banyak yang datang, tapi entah mengapa pesananku belum datang-datang juga.
Sementara bangku belakangku, yang datangnya jauh setelah aku, kulihat sudah hampir separo melahap isi piringnya.
Tapi tak apalah, orang sabar katanya disayang Tuhan. Deket rezeki serta banyak kerabat. Slogan yang terpampang di spanduk di depan dudukku pun makin membuatku 'nrimo'.
Tertulis begini, "Jika anda puas kabarkan pada kawan, jika anda tidak puas sampaikan pada kami"
Tapi sungguh bukan soal harus menunggu itu yang membuatku ingat padamu. Tapi menu lontong sayur itulah yang membawa kenangan manis padamu.
Dulu, sering engkau membuatkanku masakan lontong. Lontong opor bukan lontong sayur.
Engkau menyebutnya masakan 'sederhana' tapi bergizi. Mudah dibuat dan murah. Cukup satu paha ayam disuwir-suwir untuk satu rumah.
Tak terasa mataku pedih. Tapi senggolan penjual lontong sayur di lenganku saat mengangsurkan makanan, menyadarkan lamunanku.
Reflek kuraih hp.. kupencet nomor ibuku. Belum selesai kupencet semua nomor, aku teringat ibu sudah hampir tiga bulan tinggal bersamaNYA. Tentu tidak ada sinyal kalau aku meneleponnya.
Kini tinggal kenangan-kenangan manis bersamanya yang suka menghampiriku. Menu lontong opor, salah satunya.
Sungguh tiada bandingnya kelezatan lontong opor ibuku dibanding menu lontong-lontong lainnya. Lontong yang dibuat dengan sepenuh hati dan rasa cinta, mampu membuat kami tak terpisahkan satu sama lain, dimanapun dan kapanpun.****
Komentar