Langsung ke konten utama

MABUK PAGI-PAGI

Cer-peli (cerita pendek sekali)


PAGI ini aku mabuk anggur. Tak cukup satu sloki kuteguk, yang kata banyak orang, justru baik untuk kesehatan. Pagi ini, sebanyak tiga cangkir kopi, kureguk manisnya anggur cap Gancia (Grand Reale).

Anggur produksi Itali itu oleh-oleh sahabatku yang baru saja pulang dari negeri 'Mafioso'. "Jangan minum banyak2. Satu sloki aja kalau hendak tidur. Biar anget dan bisa tidur pulas. Istrimu kalau lagi hamil dan anak abg-mu jangan kau ajak minum ya," pesannya.

Satu nasehatnya kulanggar. Aku tak pernah minum malam. Pulang kantor, badan loyo dan ngantuk, mengalahkan keinginan untuk menikmati anggur. Beberapa kali aku justru meminumnya di pagi hari. Sensasi anggur di mulut membuat cleng!!!! Bergairah. Gairah pagi.

Sementara dua nasehat lainnya juga tak pernah kulakukan, apalagi kulanggar. Istriku tak lagi hamil dan dia tak pernah tahu aku sembunyikan anggur. Demikian pula anakku juga tak tahu, bapaknya menyimpan anggur olahan pabrik yang berdiri sejak1850. Aku diam2 saja, mencoba mengaplikasikan teori ego.

.....ideale per accompagnare tutti i tipi di desert. Pagi ini terasa istimewa. Habis sarapan 'minimalis', indomie goreng rasa iga bakar, aku berkendak membuat penyeimbangan. Makan boleh biasa tapi minumnya harus luar biasa.

Dan efeknya memang sungguh luar biasa pula. Bukan gairah dan semangat yang didapat, tapi halusinasi yang menyergap.

Mendadak aku bagai melayang. Lalu tiba2 menjadi penguasa di negeri sendiri. Tapi aku sedih. Karena kulihat banyak rakyatku yang susah.

Aku jadi heran sendiri. Mengapa ternyata rakyatku banyak yang melarat. Sudah sesiang ini, mereka mengaku belum makan. Bahkan sejak beberapa hari lalu, katanya kesulitan makanan.

"Kenapa sampai demikian," tanyaku berwibawa.

"Kami belum masak pak. Gas habis. Sementara kayu bakar tak ada yang jual lagi. Sudah habis di-ilegal logging," sahut mereka.

"Lho gas kan masih buanyak. Sampai tujuh turunan pun belum akan habis," semburku.

"Tapi betul Pak. Kios2 banyak yang tak jual. Kalaupun ada, kami sudah tak mampu beli," kata mereka lagi.

Aku terheran2, sebelum akhirnya bahuku terguncang-guncang. Tidak tahu mengapa, semenjak jadi penguasa aku kok cengeng banget. Gampang terharu dan menangis melihat penderitaan rakyat. Lagi demam pencitraan kah daku? Embuh ah.

"Pak....pak...pak," Budi, calon pengantin baru yang selama ini menjadi asistenku tiba2 menepuk-nepuk tanganku.

Aku tergagap bangun. Badanku bermandi keringat. "Bud, masakan air. Aku pengin mandi air hangat untuk usir pusing ini," kataku.

"Tapi pak, gas kita abis. Gak bisa didihkan air kita, Pak. Tadi di warung tinggal satu tabung. Harganya sudah 170 rebu. Itu pun kali sudah diambil orang, Pak. Kemarin sih Bapak cuma kasih 80 rebu," kata Budi.

Aku raba saku celana. Ada 50 rebu tersisa di sana. Ahhhhh....masih tetap kurang untuk beli gas. *****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...