Langsung ke konten utama

MENJINAKKAN (TAHUN) KUDA


Tahun 2014, menurut sebagian dari kita adalah tahun kuda. Shio kuda.

Kuda, simbol keperkasaan. Simbol pekerja keras. Tahan banting dan tak kenal menyerah. Diajak bekerja siang malam, oke-oke saja. Tak sekalipun mengeluh lelah.

Simbol kuda, yang melekat pada tahun ini, mengisyarakatkan kpd kita agar meneladan spiritnya dalam menjalani kehidupan di tahun ini.

Pertanyaannya sekarang, apakah tahun ini, bakal ebih keras dibanding tahun2 sebelumnya?

Di negeri kita, tahun ini, konstelasi politik bakal berubah drastis. Pemilu yang akan kita jalani, bakal berpengaruh terhadap segala sisi kehidupan.

Rupiah yang makin terpuruk, menjadi penanda bahwa PR bangsa ini, di hari2 ke depan akan makin berat dan sulit. Apalagi PR itu 'sengaja' dikait-kaitkan dengan persoalan politik.

Belum lagi persoalan korupsi yang sudah terlanjur menjadi kebiasaan dan budaya sebagian besar dari kita,menjadikan tahun kuda benar2 simbol dibutuhkannya semangat kerja keras tiada henti.

Memang, belajar dari pengalaman2 di masa silam, tidak ada orang yang bisa menentukan masa depannya, kecuali hanya merencanakannya. Namun bukan berarti kita harus menyerah, pasrah, dan meninggalkan semangat kuda.

Ada pepatah Jawa menyebutkan 'sak begja2ne wong lali isih begja wong kang eling lan waspada'. Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa 'ingatan' masih beruntung orang yang selalu ingat Tuhannya dan ber-hati2 dalam menjaga perilakunya.

Bekerja keras dan jujur lalu memasrahkan hasilnya pada Sang Pencipta akan memberikan kebaikan bagi diri kita masing2 dan kita semua.

Rencana yang kita persiapkan hanya akan berhasil dengan menyenangkan apabila kita memasrahkan dan mempersembahkannya pada Tuhan.

Tidak seorang pun bisa menentukan masa depannya kecuali Tuhan yang menghendaki.

Mari kita perjuangkan dan jemput takdir kita masing2 dalam kepasrahan total kepadaNya. Kita yakini bahwa the invisible hand menuntun kita ke arah yang sudah ditentukan, yang tentunya lebih baik.

Selamat memasuki tahun baru, tahun kuda. Mari bersemangat bekerja lebih keras dan tuntas. Salam sukses.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...