Hari sudah berganti pagi. Berdandan cantik dan rapi, ibuku sudah menanti. Tubuhnya bersih, wangi.
Mata ibu terpejam damai. Bibirnya senyum penuh arti. Sepertinya rasa bahagia sedang penuhi hati. "Ibu mau menjemput rindu Ilahi ya?" bisikku pelan ke telinganya.
Pagi itu, kami kakak beradik, bersama anak masing-masing, hendak mengantar ibu. "Jangan banyak tangis saat mengantar perjalanan jauhku?" pesan ibuku beberapa hari sebelumnya.
Jangan mencariku kemana-mana, meski aku sudah tak di sisimu. Walau jauh, aku sebenarnya tak pergi ke mana-mana. Aku tetap di hatimu. Coba rasakan itu dalam ketenangan, katanya lagi.
Setelah menahan rindu dalam kesakitan, akhirnya, kepastian untuk ibu datang juga. Kamis, minggu lalu, ibu telah berangkat lebih dulu. Bersama bapak, kini, dia menunggu kami, di sana. Dipersiapkannya tempat tinggal baru untuk kami.
Terimakasih ibu. Cintamu tak pernah putus. Kami akan meneladanmu, mempersiapkan perjalanan ke rumah baru itu.***
Mata ibu terpejam damai. Bibirnya senyum penuh arti. Sepertinya rasa bahagia sedang penuhi hati. "Ibu mau menjemput rindu Ilahi ya?" bisikku pelan ke telinganya.
Pagi itu, kami kakak beradik, bersama anak masing-masing, hendak mengantar ibu. "Jangan banyak tangis saat mengantar perjalanan jauhku?" pesan ibuku beberapa hari sebelumnya.
Jangan mencariku kemana-mana, meski aku sudah tak di sisimu. Walau jauh, aku sebenarnya tak pergi ke mana-mana. Aku tetap di hatimu. Coba rasakan itu dalam ketenangan, katanya lagi.
Setelah menahan rindu dalam kesakitan, akhirnya, kepastian untuk ibu datang juga. Kamis, minggu lalu, ibu telah berangkat lebih dulu. Bersama bapak, kini, dia menunggu kami, di sana. Dipersiapkannya tempat tinggal baru untuk kami.
Terimakasih ibu. Cintamu tak pernah putus. Kami akan meneladanmu, mempersiapkan perjalanan ke rumah baru itu.***
Kamis, 17 Okt 2013 pkl 11 engkau berangkat
Komentar