Langsung ke konten utama

SEMOGA BAPAK TAK JADI KORBAN SALAH SASARAN

Cer-peli (cerita pendek sekali)


KEMARIN aku baca berita tentang penembakan terduga teroris di sebuah surat kabar. Setelah itu berulang-ulang aku melihat dan mendengar beritanya di televisi-televisi.

Miris aku merasakannya. Teroris seolah tiada habis-habisnya berkeliaran di sisiku. Susah diterka siapa mereka. Nampak santun dan biasa, tapi siapa nyana ternyata mereka teroris berbahaya.

Itu setidaknya kata polisi- polisi di media-media massa. Bapakku sendiri sebenarnya juga polisi, tapi pangkatnya tidak tinggi. Bukan perwira, hanya bintara.

Jelas, bapakku tidak kaya dan terkenal tapi aku bangga dibuatnya. Aku merasakan, dia juga bangga dan konsekuen dengan tugasnya. "Mengabdi pada negara dan menjadi pengayom rakyat lebih utama dibanding yang lain," katanya suatu saat.

Aku sendiri masih kelas dua smp. Teman-temanku biasa memanggilku Kapten karena aku anak polisi, kata mereka. Setiap hari aku bersepeda onthel 14 km menuju sekolah, jadi pulang pergi 28 km. Selain karena tak punya uang, bapak bilang sengaja tak membelikanku motor karena katanya aku belum cukup umur.

"Kamu anak polisi. Jadi harus bisa kasih contoh ya...." kata bapakku.

"Tapi pak, Daryono kawanku, anak polisi juga, ke sekolah naik mot...," tiba-tiba bapakku melekatkan telunjuknya di bibirku.

"Jangan mencontoh tindakan yang salah. Memang tidak semua orang sadar akan profesinya. Profesi apapun. Bahkan ada yang sengaja memanfaatkan profesinya," sambung bapakku.

Tadi malam, ketika usai menonton berita teroris lagi. Kupandangi wajah bapakku yang sedang duduk di teras. Haru aku dibuatnya. Namun tiba-tiba menyelip pula rasa was-was dan takut.

Berita penembakan teroris dan penembakan-penembakan gelap pada polisi akhir-akhir ini, berebutan memenuhi ingatanku.

Aku mendesah. "Mengapa ya teroris-teroris iti harus ditembak mati semua. Mereka khan masih terduga. Kenapa tidak dilumpuhkan saja macam difilm-film tu. Lalu dinterogasi. Apa mau mereka dan siapa saja kelompoknya?" batinku.

Sementar kalau belum terbukti, apakah tindakan itu tidak akan menyulut rasa antipati masyarakat pada aparat dan juga menghidupkan keinginan balas dendam dari kelompok teroris?

Aku jadi ingat Bapaknya Adi yang juga polisi. Mati ditembak orang tak dikenal. Lalu teringat pula polisi-polisi lain yang dibunuh, kantor polisi yang dibom, dll.

Aku pandangi wajah bapaku dari kejauhan. Dalam keresahan dan ketakutan aku berdoa semoga Bapaku dijauhkan dari petaka dan godaan dosa.
"Yang penting lagi, semoga bapak tidak menjadi korban salah sasaran dari para penjahat." ****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...