Langsung ke konten utama

Zone Merah Pelecehan Seksual Anak-anak




DI TENGAH menghangatnya kasus tertangkap tangannya Gubernur Riau oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), realitas lain yang cukup memprihatinkan bagi warga Riau, perlu mendapat perhatian serius pula. Kita barangkali tidak pernah menyangka bahwa Provinsi ini, ternyata masuk dalam zona merah kekerasan seksual terhadap anak. Berada di posisi teratas.
Sekitar dua bulan lalu, dari Kabupaten Siak terbongkar kasus mutilasi terhadap anak-anak yang dilakukan oleh “satu” keluarga; suami - istri - dan saudara. Sebelum dibunuh, korban terlebih dahulu diperkosa, disodomi, dan dipotong alat kelaminnya. korban tidak hanya satu, tapi lebih dari lima orang.
Sementara dalam satu semester tahun 2014, data yang dirilis Mabes Polri terkait kekerasan seksual terhadap anak, menempatkan Riau pada peringkat teratas di Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan Riau sudah berada di zona merah darurat kekerasan seksual terhadap anak.
Sebagai posisi puncak, menurut Kabagpenum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Agus Rianto, sepanjang semester ini, di Riau terdapat 64 kasus kekerasan terhadap anak. Disusul Provinsi Kalimantan Selatan dengan 13 kasus, Yogyakarta 7 kasus, Jawa Timur: 2 kasus, Jakarta dan Jawa Barat masing-masing 1 kasus.
Sementara data dari Polda Riau, seperti dikemukakan Reskrimsus Polda Riau Kombes Pol Arif Rahman Jakim, dari Januari sampai Mei 2014, Polda Riau telah menerima laporan 114 kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan korban mencapai 117 orang.
Kasus-kasus yang terjadi di Riau, diantaranya terjadi di Pekanbaru: 26 kasus, Kampar: 20 kasus, Dumai: 12 kasus, Rokan Hilir: 12 kasus, Indragiri Hilir: 8 kasus, dan Indragiri Hulu: 7 kasus
Sementara menurut catatan Haria Tribun Pekanbaru, sepanjang Mei 2014, terjadi tiga kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak. Dari kasus ini.  yang menonjol adalah kasus enam bocah di wilayah  Tampan Pekanbaru, yang menjadi korban tindak kekerasan tiga kakak beradik.Ironisnya, satu pelaku masih berusia 9 tahun.
Selain itu, fakta mengejutkan disampaikan psikolog dari Putik Psychology Center Elia Wardani, awal Mei lalu. Dalam dua bulan terakhir, lembaga itu menangani enam kasus pelecehan seksual. Yang lebih mengerikan, korbannya berusia antara 2,5 hingga 8 tahun.
Menurut Elia, kasus ini semakin memprihatinkan ketika ada anak perempuan korban pemerkosaan yang justru disembunyikan orangtuanya. “Saat saya tanya, mengapa tidak melapor ke polisi, si ayah korban bilang ia segan, karena pelakunya teman dia sendiri,” ujar Elia.
Bentuk pelecehan seksual terhadap anak-anak bermacam-macam. Bisa berupa menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik, atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.
Pelecehan seksual pada anak, apa pun bentuknya, harus kita lawan dan hentikan. Karena dampak pelcehan seksual pada anak cukup mengkhawatirkan, diantaranya membuat korban mengalami depresi, gangguan stres pascatrauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada masa dewasa, dan cedera fisik.
Di Amerika Utara, sekitar 15% sampai 25% wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami pelecehan seksual saat mereka masih anak-anak. Sebagian besar pelaku pelecahan seksual adalah orang yang dikenal oleh korban mereka; sekitar 30% adalah keluarga dari korban, 60% adalah kenalan lainnya seperti ‘teman’ dari keluarga, pengasuh, atau tetangga.
Asosiasi Psikiater Amerika menyatakan bahwa “anak-anak tidak bisa menyetujui aktivitas seksual dengan orang dewasa”, dan mengutuk tindakan seperti itu oleh orang dewasa: Oleh karena itu, memaksakan aktivitas seksual terhadap anak-anak adalah tindak pidana dan tidak bermoral yang sampai kapan pun tidak pernah bisa dianggap normal.
Atas kondisi yang ada, kita semua tidak bisa tinggal diam. Kita harus bersatu dan sungguh-sungguh melawan aksi kekerasan seksual pada anak-anak. Anak-anak adalah penerus kita. Anak-anak adalah masa depan kita, mereka harus kita selamatkan dan kita antarkan menjadi generasi tangguh yang mandiri.****

Tags:


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang ke Rumah

Rumah Masa Depan Bukan di Kuburan Oleh: RHR Dodi Sarjana Jika ingin bersendiri tanpa bersepi Jika ingin hening di tengah bising yang mati Jika terus ingin lari lalu selalu rindu kembali Jika ingin tempat menetap tanpa tersekap jawablah: kepadamukah kumesti pergi? SEORANG penyair, yang mantan dosen Fakultas Satra Inggris UGM Yogyakarta, Landung R. Simatupang, memaknai hakikat rumah dengan goresan puisinya seperti dituliskannya di atas. Landung memang memberi judul pusinya dengan satu kata, Rumah. Namun Landung masih sangsi akan ketentraman yang ditawarkan rumah. Adakah tempat lain, selain rumah, yang bisa memberi silih atau obat ketika hati ini merana? Benarkah hanya rumah, satu-satunya tempat yang mampu memberikan kenyaman di kala hati gundah? Tentu jawaban yang muncul akan sangat debatable. Sangat bisa dibantah dan tergantung suasana hati masing-masing individu. Namun harus diakui, dari rumah lah, kerangka psikologis seseorang terbangun. Suasana rumah, kehidupan rumah, dan geliat hidu...

Memilih Cara Kematian

Ajal yang Menakutkan Oleh: RHR Dodi Sarjana SEANDAINYA Anda menjadi terpidana mati... Besok Anda akan dieksekusi... Sebagai penghormatan terakhir atas "identitas" kemanusiaan Anda, Anda diberi kebebasan untuk memilih cara menempuh kematian tersebut. Cara apa kira-kira yang menjadi pilihan Anda? MENGHADAPI ajal tentu bukanlah persoalan sepele dan ringan. Sebagai manusia yang masih suka bergulat dengan dunia keduniawiaan, manusia yang belum bisa melihat hakikat kehidupan, hakikat bahwa kita semua adalah pancaran sinar-Nya, berhadapan dengan kematian adalah menakutkan. Kalau ditanya kapan kamu mau mati? Sudah siapkah kamu menghadapi elmaut sang pencabut nyawa? Tentu kita tidak akan pernah mengatakan siap! Hanya orang-orang tertentu saja yang dengan senyum keiklhasan menyatakan rela dijemput maut. Hanya orang-orang yang bisa merasakan hakikat keesaan Ilahi dalam dirinyalah yang dengan sukarela mau tereliminasi dan pergi ke alam kelanggengan (keabadian). Mati, sebenarnya bukanl...

Ribut Benjut, Kalah Menang tetep Senang

Indahnya Coblosan di Bulan Puasa Oleh: RHR Dodi Sarjana Damaiku, Damaimu. Damai di aku semoga juga menular damai di dirimu. Damai di dunia, pasti juga akan damai di akherat. MARHABAN, ya Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah beberapa hari kita lalui bersama. Umat Islam di seluruh dunia, selama satu bulan penuh melakukan kegiatan ibadah yang amat mulia untuk memerangi segala perbuatan mungkar dan maksiat. Di bulan ini, kita wajib menahan dan mengendalikan diri secara lahir dan batin. Secara lahiriah, kita harus menahan diri dengan tidak makan, tidak minum, dan berhubungan badan di siang hari. Karena itu, substansi ibadah puasa di bulan Ramadhan biasanya sering disebut sebagai pengendalian diri. Puasa atau Ramadhan, di tanah air kita, selalu ditandai dengan sikap antusiasme dan sukacita masyarakat. Di negara kita dan juga negara-negara lain, puasa tidak hanya sebatas dijalani sebagai hari penyucian kembali, namun juga proses hidup baru. Di beberapa wilayah di tanah air, bulan puasa juga me...